Langsung ke konten utama

Postingan

Tergopoh-gopoh di Ujung Palu

Di ruang pengadilan yang sumpek, bau tinta surat dakwaan bercampur dengan keringat para saksi. Hakim duduk di singgasananya— suaranya berderak seperti kayu tua, membacakan pasal-pasal dengan lidah setengah kering. Di luar sana, keadilan berjalan tertatih, sepatunya berlubang, solnya tipis, tergopoh-gopoh melintasi lorong-lorong sunyi di mana para pemilik kuasa mengolesi telapak tangan dengan minyak licin yang tak kasat mata. Sementara itu, tidak adil duduk nyaman di kursi empuk, membelah cerutu dengan gerahamnya, asapnya melingkar, menari di bawah lampu temaram. Ia tertawa serak, suaranya berat, seberat kepastian yang ditulis di atas kertas yang tak akan pernah sampai pada mereka yang tangannya pecah oleh cangkul dan debu jalanan. Seorang lelaki berdiri di depan meja hijau, bibirnya retak, napasnya sesak, kata-katanya tercekat seperti ikan terjerat kail. Ia ingin bicara, ingin menolak, tapi suara di dadanya telah diculik oleh pasal yang ditikamkan tanpa ampun. Di luar, gerimis turun ta...

Aksi Massa

Titikintipbuku— Nama Tan Malaka seolah terlupakan dari sejarah perjuangan Indonesia. Selama ini namanya diasosiasikan orang dengan pemberontakan dan gerakan radikal komunis tanpa pernah tahu latar belakang, pemikiran, serta upaya-upayanya menghalau imperalisme Barat di Indonesia. Dalam buku ini, Tan Malaka menunjukkan pemikirannya bahwa upaya perebutan kekuasaan dengan radikal (putch) bukanlah solusi terbaik, baginya, “putch itu adalah satu aksi segerombolan rakyat banyak. Gerombolan itu biasanya hanya membuat rancangan menurut kemauan dan kecakapan sendiri tanpa memperdulikan perasaan dan kesanggupan massa… ‘tukang-tukang putch’ lupa bahwa… revolusi timbul dengan sendirinya dengan hasil dari berbagai macam keadaan. Bila tukang-tukang putch’ pada waktu yang telah ditentukan oleh mereka sendiri, keluar tiba-tiba, massa tidak akan memberikan pertolongan kepada mereka. Bukan karena massa bodoh atau tidak memperhatikan, melainkan massa hanya berjuang untuk kebutuhan yang terdekat dan sesua...

PP Muhammadiyah Tetapkan 1 Maret sebagai Awal Ramadhan, Idul Fitri 31 Maret, dan Idul Adha 6 Juni 2025

Selintas— Sekretaris Jendral Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Sayuti, dalam Konferensi Pers menyampaikan hasil maklumat no 1 tahun 2025 tentang penetapan hasil hisab Ramadhan, Syawal dan Dzulhijah 1446 H dalam kanal YouTube PP Muhammadiyah, Rabu (12/2/2025). Foto: Net “Berdasarkan hasil hisab hakiki wujudul hilal yang dipedomani oleh majelis tarjih dan tajdid PP Muhammadiyah menetapkan tanggal 1 Ramadhan 1446 H dengan demikian jatuh pada hari sabtu pahing tanggal 1 maret 2025 M,” kata Sayuti. “Terkait dengan bulan syawal 1446 H, di wilayah Indonesia pada tanggal 1 syawal 1446 H atau Idul Fitri jatuh pada hari senin pahing 31 maret 2025 M”, lanjutnya. “Kemudian hari Arafah 9 Dzulhijah 1446 H jatuh pada hari kamis pon 5 juni 2025 M dan Idul Adha yang berarti 10 Dzulhijah 1446 H jatuh pada hari jum’at wage tanggal 6 juni 2025 M”, tandasnya. Sementara itu, dengan datangnya bulan suci Ramadan, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan pesan-pesan, nasihat dan me...

Perempuan Menjahit Sunyi

Di beranda senja, ia duduk menjahit sunyi benangnya gemetar, jarumnya menusuk waktu di dadanya—getar doa yang tak pernah gugur. Di gang sempit, hujan mengetuk genting suara sepatu bocah berlari menampar kubangan, menggenangi ingatan tentang tangan yang dulu menggandeng kini hanya bayang yang meraba-raba Ia menghirup bau kopi yang melingkar di udara pahitnya meleleh di ujung lidah seperti kata-kata yang tak sempat lahir ditelan gelas-gelas kosong di meja warung Pundaknya memikul angin yang datang dari jauh, membawa kabar bisu tentang lelaki yang tak kembali tentang rumah yang tetap berdiri tapi kehilangan arah pulang Perempuan itu masih di sana, menjahit sunyi dengan benang cahaya dan setiap tusukan jarumnya menganyam malam agar tak runtuh di matanya. Oleh: Melin Maulinta

Tan Malaka: Seorang Nasionalis Muslim Bersemangat Marxis

Titik Intip Buku — Naar De Republik Indonesia (Menuju Republik Indonesia) ini ditulis Tan Malaka di Kanton, Cina, pada 1925, tiga tahun sebelum deklarasi sumpah pemuda. Ketika para pejuang yang lain baru berpikir tentang persatuan, atau paling jauh tentang kemerdekaan Indonesia, Tan Malaka sudah jauh berpikir tentang Republik Indonesia, sebagai bentuk negara yang akan lahir pasca Hindia Belanda. Pada prinsipnya, pemikiran-pemikiran Tan Malaka bermuara pada aspek tujuan kemerdekaan Indonesia. Namun, dalam buku ini Tan Malaka menginginkan adanya perombakan secara drastis pada semua sistem penyelenggara negara-politik, ekonomi, sosial, dan budaya, bahkan militer. Bermula pada paparan situasi dunia pada saat perang dunia tahun 1914-1918 dalam lingkup ekonomi, dunia telah terbagi menjadi dua bagian: 1.      Negeri-negeri yang kalah, yaitu Jerman, Austria, Hongaria dan Turki. Juga rusia, dimana kaum buruh telah memegang kekuasaan dalam bidang ekonomi yang tergolong p...

Profil Singkat Susi Susanti: The Ballerina Bulutangkis yang Mengukir Sejarah Emas untuk Indonesia

Sosok— Susi Susanti adalah seorang pebulu tangkis asal Indonesia yang dikenal dengan gaya bermainnya yang khas dan unik. Kariernya yang gemilang menjadikannya salah satu pemain tunggal putri terhebat dalam sejarah bulu tangkis Indonesia. Prestasinya yang paling menonjol adalah keberhasilannya meraih medali emas pertama untuk Indonesia di ajang Olimpiade. (Sumber: KONI Depok) Profil Susi Susanti   Lucia Franscisca Susi Susanti atau lebih dikenal dengan nama Susi Susanti adalah gadis kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, pada 11 Februari 1971. Susi dilahirkan dari pasangan Risad Haditono dan Purwo Benowati.   Dikutip dari beberapa sumber, Pada usia sekitar tujuh tahun, Susi Susanti mulai mengenal olahraga bulu tangkis. Ia lahir dalam keluarga yang memang sangat mencintai olahraga ini, di mana kedua orang tuanya hobi bermain bulu tangkis terkhusus ayah nya yang merupakan mantan atlet bulu tangkis profesional namun terhenti karna cidera lutut yang beliau alami.   ...

Topeng Bara Hasrat Sengkuni

(Sumber: De Journey) Di Bawah langit yang retak oleh dendam, Sengkuni menganyam dusta seperti benang emas, Setiap kata mengelus luka, menyulut api dalam jiwa. Ia bukan manusia, ia api yang tak pernah padam.   Dunia tunduk pada bisik halusnya, Seperti angin yang menyusup ke celah gelap, Menyulut bara yang disembunyikan bumi, Tapi ia lupa, abu pun bisa mencekik udara.   Setiap langkahnya adalah bayang-bayang bulan, Bersinar lembut, tapi menyimpan tajam pisau malam, Ia mengukir mimpi yang dirajut dari malam gelap, Namun mimpinya selalu berakhir dalam jurang.   Sengkuni adalah burung tanpa sarang, Terbang tinggi di atas reruntuhan hati manusia, Menanti celah untuk mencuri warna fajar, Tapi ia hanya menyisakan gelap dalam mata.   Pada akhirnya, langit tak bisa ditipu selamanya, Hujan turun seperti kebenaran yang mengguyur, Membasahi topengnya hingga lapuk dan hancur, Menyisakan wajah—bara yang kini menjadi debu.   Ole...