![]() |
| (Sumber: De Journey) |
Di Bawah langit yang retak oleh dendam,
Sengkuni menganyam dusta seperti benang
emas,
Setiap kata mengelus luka, menyulut api
dalam jiwa.
Ia bukan manusia, ia api yang tak pernah
padam.
Dunia tunduk pada bisik halusnya,
Seperti angin yang menyusup ke celah
gelap,
Menyulut bara yang disembunyikan bumi,
Tapi ia lupa, abu pun bisa mencekik udara.
Setiap langkahnya adalah bayang-bayang
bulan,
Bersinar lembut, tapi menyimpan tajam
pisau malam,
Ia mengukir mimpi yang dirajut dari malam
gelap,
Namun mimpinya selalu berakhir dalam
jurang.
Sengkuni adalah burung tanpa sarang,
Terbang tinggi di atas reruntuhan hati
manusia,
Menanti celah untuk mencuri warna fajar,
Tapi ia hanya menyisakan gelap dalam mata.
Pada akhirnya, langit tak bisa ditipu
selamanya,
Hujan turun seperti kebenaran yang
mengguyur,
Membasahi topengnya hingga lapuk dan
hancur,
Menyisakan wajah—bara yang kini menjadi
debu.
Oleh: Melin Maulinta

Komentar
Posting Komentar