Titikintipbuku—Nama Tan Malaka seolah terlupakan dari sejarah perjuangan Indonesia. Selama ini namanya diasosiasikan orang dengan pemberontakan dan gerakan radikal komunis tanpa pernah tahu latar belakang, pemikiran, serta upaya-upayanya menghalau imperalisme Barat di Indonesia.
Dalam buku ini, Tan Malaka menunjukkan pemikirannya bahwa upaya perebutan kekuasaan dengan radikal (putch) bukanlah solusi terbaik, baginya, “putch itu adalah satu aksi segerombolan rakyat banyak. Gerombolan itu biasanya hanya membuat rancangan menurut kemauan dan kecakapan sendiri tanpa memperdulikan perasaan dan kesanggupan massa… ‘tukang-tukang putch’ lupa bahwa… revolusi timbul dengan sendirinya dengan hasil dari berbagai macam keadaan. Bila tukang-tukang putch’ pada waktu yang telah ditentukan oleh mereka sendiri, keluar tiba-tiba, massa tidak akan memberikan pertolongan kepada mereka. Bukan karena massa bodoh atau tidak memperhatikan, melainkan massa hanya berjuang untuk kebutuhan yang terdekat dan sesuai dengan kebutuhan ekonomi…” agar sebuah gerakan dapat mencapai tujuannya, Tan Malaka menawarkan aksi massa sebagai solusinya.
Menurut Tan Malaka revolusi disebabkan oleh pergaulan hidup, suatu akibat tertentu dari tindakan-tindakan masyarakat yang tak terhindarkan dan timbul dari pertentangan kelas yang kian hari kian tajam kemudian menimbulkan pertempuran yang diakibatkan pelbagai macam faktor: ekonomi, sosial, politik, dan psikologis. Jika semua manusia yang ada sekarang musnah sama sekali tentulah terjadi proses: werden undvergehen, yakni perjuangan kelas terus-menerus hingga tercapai pergaulan hidup yang tidak mengenal kelas (Karl Marx).
Menurut pandangan Tan Malaka, bahwa riwayat kita ialah riwayat Hindu atau setengah Hindu. selanjutnya, bahwa perasaan sebagai kemegahan nasional jauh dari tempat nya; kemudian, bahwa setiap pikiran yang mencitakan pembangunan (renaisance) samalah artinya dengan menggali aristokratisme dan penjajahan bangsa Hindu dan setengah Hindu yang sudah terkubur itu. Bangsa Indonesia yang sejati dari dulu hingga sekarang masih tetap menjadi budak belian yang penurut, bulan-bulanan dari perampok asing. Kebangsaan Indonesia yang sejati tidak ada kecuali ada niat membebaskan bangsa Indonesia yang belum pernah merdeka itu. Bangsa Indonesia yang sejati belum mempunyai riwayat sendiri selain perbudakan. Riwayat bangsa Indonesia baru dimulai jika mereka terlepas dari tindasan kaum imperalis.
Di negeri-negeri kapitalis yang maju, pertentangan sosial terbagi atas dua kelas; kelas kapitalis dengan para pengikutnya dan kelas buruh. Kelas kapitalis sedapat mungkin mengadakan pemerasan atas kelas buruh yang jumlahnya lebih besar dengan mempergunakan “senjata gaib”, seperti sekolah, gereja atau masjid, dan juga perkakas kelas seperti polisi, tentara, penjara, dan justisi. Makin maju kapitalisme makin sedikit orang yang berharta dan jumlah kaum buruh miskin menjadi lebih besar. Pertentangan sosial antara kapitalis dan buruh di Indonesia berhubungan dengan satu dan lain hal. Keuntungan besar dari gula, minyak, karet, kopi, teh dan sebagian besar mengalir ke Eropa, ke kantong bangsa Belanda, dan sebagian kecil ada juga kembali ke Indonesia, tetapi bukan sebagai kenaikan gaji buruh, melainkan sebagai penambah “kapital” yang sudah ada, menjadi “alat penghisap” yang baru pula.
Kekokohan politik Republik Indonesia dapat dipertahankan oleh diktator buruh yang kekuasaan semangatnya terkandung dalam satu partai revolusioner yang “kuat”. Sebuah pergerakan rakyat yang sehat menuju ke pemberantasan buta huruf yang dipimpin dengan gembira dan tak memandang susah payah oleh kaum revolusioner di Priangan pada tahun 1922 ditimpa nasib yang seburuk itu pula. Pada tahun 1921 kaum revolusioner bermaksud untuk memperbaiki keteledoran pemerintah dalam hal pendidikan dengan mendirikan sekolah-sekolah sendiri. Dengan menempuh pelbagai macam kesusahan, seperti kesulitan teknis, kepegawaian, keuangan, politik dan polisi, akhirnya dapat kita dirikan diseluruh Jawa dengan 52 buah sekolah dengan kira-kira 50.000 orang murid dan jumlah itu bertambah bayak. Akan tetapi sekolah itu digencet dengan kekerasan. Dengan alasan yang tak cukup setiap waktu guru-guru disekolah itu dilarang mengajar, dan orang tua murid-murid ditakut-takuti. Pukulan penghabisan dijatuhkan Serikat Hijau (sebuah kumpulan penyamun yang dikerahkan, diupah dan dipimpin oleh pemerintah dan orang-orangnya). Penyamun upahan ini disuruh membakar sekolah, menakut-nakuti dan menganiaya orang, murid, dan guru-gurunya.
Sebagaimana terjadi di negeri Eropa, penduduk bandar meminta hak politik dan ekonomi lebih banyak. Dari pertentangan antara pesisir dan dengan darat, perdagangan dengan pertanian, penduduk dengan pemerintah, timbullah satu revolusi yang membawa pulau Jawa ke puncak ekonomi dan pemerintahan. Tan malaka mengemukakan beberapa masalah politik, ekonomi dan sosial yang mungkin akan memicu sebuah api revolusi:
1. Kekayaan dan kekuasaan sudah tertumpuk ke dalam genggaman beberapa kapitalis
2. Rakyat Indonesia semuanya makin lama semakin miskin, melarat, tertindas dan terkungkung.
3. Pertentangan kelas dan kebangsaan makin lama makin tajam
4. Pemerintah Belanda makin lama makin reaksioner
5. Bangsa Indonesia dari hari ke hari semakin bertambah kerevolusionerannya dan tak “mengenal damai”.
Menurut Tan Malaka revolusi yang akan timbul di Indonesia tak akan sama seperti revolusi yang berdentang di negeri-negeri lain seperti pemberontakan Maroko, revolusi proletar di Jerman, Inggris dan Amerika, revolusi kita juga tidak akan menyamai revolusi borjuasi Prancis 1789 juga revolusi Prancis 1870, akan berlainan pula dengan revolusi Rusia yang kaum buruh mudanya dididik menurut aturan Lenin, dan tidak akan sama seperti revolusi politik semata seperti di India, Mesir, dan Filipina. Revolusi Indonesia ialah lahir atas dasar untuk menentang sisa-sisa feodalisme dan sebagian yang terbesar menentang imperalisme Barat yang lalim. Ia juga di dorong oleh kebencian bangsa Timur terhadap bangsa Barat yang menindas dan menghina mereka.
Tan Malaka memandang selama seorang percaya bahwa kemerdekaan akan tercapai dengan jalan pucth atau anarkisme, hal itu hanyalah impian orang yang lagi demam. Dan pengembangan keyakinan itu di antara rakyat merupakan satu perbuatan yang menyesatkan, sengaja atau tidak. Membuat putch di negeri, seperti Indonesia (terutama di Jawa), di tempat kapital dipusatkan dan dilindingi oleh militer dan mata-mata ala Barat yang modern - sebaliknya, rakyat masih mempercayai yang gaib-gaib, takhayul dan dongeng, samalah artinya dengan “bermain api”, tangan sendiri yang akan hangus. Kaum anaskir yang biasanya berkata bahwa kekuasaan barat yang kokoh ini dapat dirobohkan dengan beberapa butir telur “yang meletup” tidak lebih cerdik daripada seorang yang menembak batu dengan kepalanya.
Hanya “satu aksi massa”, yakni satu aksi massa yang terencana yang akan memperoleh kemenangan, di satu negeri yang berindustri seperti di Indonesia!. Sebagian dari aksi massa menunjukkan dirinya dengan “pemogokan atau pemboikotan”. Bila buruh yang berjuta-juta meletakkan pekerjaannya dengan maksud tertentu (menuntut keuntungan ekonomi dan politik) niscaya kerugian dan kekalutan ekonomi akibat aksi mereka dapat melemahkan kaum penjajah yang keras itu.
Tan malaka memiliki konsep bahwa untuk mencapai sebuah kemerdekaan yang mutlak, seyogyanya kita harus merdeka terlebih dahulu sejak dalam pikiran, kita pergunakan pikiran yang “rasional” sebab pengetahuan dan cara berfikir yang begitu adalah tingkatan tertinggi alam peradaban manusia. Hanya cara berbipikir dan bekerja secara rasional yang dapat membawa manusia dari ketakhayulan, kelaparan, wabah penyakit dan perbudakan, menuju kepada kebenaran. Kita tak akan mungkin merdeka bila kita belum menghapuskan segala “kotoran kesaktian” itu dari kepala. Kita tak boleh kalah oleh orang barat dalam hal pemikiran, penyelidikan dan kejujuran. Akuilah dengan tulus, bahwa kita sanggup dan mesti belajar dari orang barat. Tapi kita jangan jadi penitu orang barat, melainkan sorang murid dari timur yang cerdas, suka mengikuti kemauan alam dan seterusnya dapat melebihi kepintaran guru-gurunya di barat. Bilamana kamu sudah melebihi pengetahuan, cara berpikir dan kecakapan orang barat. Sekurang-kurangnya masyarakat kamu sudah mengeluarkan orang yang sudah melebihi seorang dari Newton, Marx dan lenin, barulah kamu boleh bangga. Pada waktu ini sungguh sia-sia dan tak layak bagi kamu mengeluarkan perkataan sudah “lebih pintar” dan tak perlu belajar lagi, sebab banyak sekali yang belum kamu ketahui.
Agar sebuah gerakan dapat mencapai tujuannya, Tan Malaka menawarkan aksi massa sebagai solusinya. Karena “aksi-massa tidak mengenal fantasi kosong seorang tukang pucth atau seorang anarkis atau tindakan berani dari seorang pahlawan. Aksi massa berasal dari orang banyak untuk memenuhi kehendak ekonomi dan politik mereka.”
Dengan alasan inilah Tan Malaka menolak rencana pemberontakan parta Komunis Indonesia (PKI) 18 juni 1926 yang dinilainya terlalu sembrono dan sama sekali tidak mempertimbangkan dasar-dasar aksi massa. Terbukti kemudian pemberontakan itu gagal. Banyak pemimpin PKI yang ditangkap dan dibunuh. Buku ini ditulis oleh Tan Malaka sekitar tahun 1926, saat ia meloloskan diri dari Indonesia dan masuk ke Singapura dengan menggunakan nama Hasan Gozali. (Des Ariyanto)

Komentar
Posting Komentar