Sosok—Susi Susanti adalah seorang pebulu tangkis asal Indonesia yang dikenal dengan gaya bermainnya yang khas dan unik.
Kariernya yang gemilang
menjadikannya salah satu pemain tunggal putri terhebat dalam sejarah bulu
tangkis Indonesia. Prestasinya yang paling menonjol adalah keberhasilannya
meraih medali emas pertama untuk Indonesia di ajang Olimpiade.
![]() |
| (Sumber: KONI Depok) |
Profil Susi
Susanti
Lucia Franscisca Susi Susanti atau
lebih dikenal dengan nama Susi Susanti adalah gadis kelahiran Tasikmalaya, Jawa
Barat, pada 11 Februari 1971. Susi dilahirkan dari pasangan Risad Haditono dan
Purwo Benowati.
Dikutip dari beberapa sumber, Pada
usia sekitar tujuh tahun, Susi Susanti mulai mengenal olahraga bulu tangkis. Ia
lahir dalam keluarga yang memang sangat mencintai olahraga ini, di mana kedua
orang tuanya hobi bermain bulu tangkis terkhusus ayah nya yang merupakan mantan
atlet bulu tangkis profesional namun terhenti karna cidera lutut yang beliau
alami.
Susi sering diajak oleh orang tuanya
ke lapangan untuk menyaksikan permainan mereka. Pada awalnya, Susi hanya
menjadi penonton yang menyaksikan pertandingan orang tuanya, namun seiring
waktu, ia mulai tertarik untuk mencoba bermain. Melihat bakat alami yang
dimiliki oleh Susi, orang tuanya pun mulai melatihnya dengan lebih serius.
Talenta Susi semakin terlihat, dan
perhatian atas kemampuannya bahkan datang dari Lie Po Djian (Pudjianto),
pahlawan Piala Thomas 1958 yang juga merupakan teman akrab ayahnya. Pudjianto
melihat potensi besar pada diri Susi dan memberikan nasihat agar ia dilatih
dengan lebih intensif dan teratur agar bisa berkembang lebih jauh dalam
olahraga ini.
Perjalanan
Karier dan Prestasi
Selain menerima pelatihan dari
ayahnya, Susi Susanti juga mengasah kemampuannya di klub bulu tangkis milik
pamannya, PB Tunas Tasikmalaya, selama tujuh tahun.
Dedikasi dan kerja keras yang dia
tunjukkan selama masa latihan tersebut membuahkan hasil. Ketika masih duduk di
bangku SMP, Susi mulai memfokuskan diri untuk berkarier di dunia bulu tangkis
profesional.
Langkah besar dalam perjalanan
kariernya terjadi ketika ia bergabung dengan dua klub besar Indonesia, PB Jaya
Raya dan PB Djarum, yang memberikan peluang bagi Susi untuk mengembangkan
bakatnya lebih jauh dan bersaing di tingkat yang lebih tinggi.
Namun sebelum itu, Karier junior
Susi Susanti dimulai pada usia yang sangat tergolong muda. Pada usia 14 tahun,
ia meraih gelar juara World Championship Junior pada 1985, mencatatkan prestasi
luar biasa dengan menjuarai tiga nomor, yaitu tunggal, ganda putri, dan ganda
campuran.
Keberhasilan ini tidak hanya sekali,
karena pada 1987, Susi kembali menjadi juara di nomor tunggal dan ganda putri,
mencatatkan total lima kali juara dunia junior, sebuah pencapaian yang luar
biasa bagi seorang atlet muda.
Memasuki karier profesional, Susi
mulai menunjukkan dominasinya di tingkat internasional. Pada usia 18 tahun,
tepatnya pada 1989, ia meraih gelar juara Indonesia Terbuka, sebuah langkah
besar dalam karier profesionalnya. Keberhasilannya di ajang Indonesia Terbuka
tidak berhenti di satu kali saja, karena Susi berhasil menjuarai turnamen ini
sebanyak enam kali.
Seiring berjalannya waktu, prestasi
demi prestasi terus diraih oleh Susi. Pada 1987, ia turut menyumbangkan gelar
Piala Sudirman pertama bagi tim Indonesia, sebuah pencapaian penting dalam
sejarah bulu tangkis Indonesia.
"The
Ballerina" sebuah julukan yang disematkan
kepada Susi Susanti karna gaya permainan nya yang unik dan khas, hal tersebut
dibuktikan dengan dominasinya di level internasional dari rentan tahun
1990-1996.
Dengan meraih gelar juara All
England sebanyak empat kali pada tahun 1990 sampai 1994. Di puncak prestasinya,
pada 1993, ia berhasil meraih gelar Juara Dunia, semakin mengukuhkan namanya
sebagai salah satu pemain bulu tangkis terbaik dunia.
Namun, puncak dari perjalanan karier
Susi yang membanggakan Indonesia terjadi pada Olimpiade Barcelona 1992. Pada 4
Agustus 1992, Susi Susanti mencatatkan sejarah dengan meraih medali emas di
cabang bulu tangkis tunggal putri, menjadikannya sebagai peraih medali emas
pertama bagi Indonesia di Olimpiade.
![]() |
| (Sumber: Liputan6.com) |
Prestasi Susi tidak berhenti sampai
di situ. Pada Olimpiade Atlanta 1996, meskipun hanya meraih medali perunggu, ia
kembali menunjukkan kemampuannya di panggung internasional.
Selain itu, Susi juga turut berperan
penting dalam meraih Piala Uber bersama tim Uber Indonesia pada tahun 1994 dan
1996. Sepanjang kariernya, Susi berhasil mengumpulkan berbagai gelar, termasuk
kemenangan di sejumlah turnamen Grand Prix, yang semakin memperkaya daftar
prestasinya.
Kehidupan
Setelah Pensiun dari Altlet
Pada tahun 1997, ketika dunia bulu
tangkis Indonesia mulai memasuki masa regenerasi dengan munculnya pemain-pemain
muda berbakat, Susi Susanti memutuskan untuk mengundurkan diri dari dunia
olahraga yang telah membesarkan namanya. Keputusan ini diambil setelah ia
meraih puncak kariernya dan memberikan kontribusi besar bagi Indonesia di
kancah internasional.
Pada tahun yang sama, Susi juga
melangsungkan pernikahannya dengan Alan Budikusuma, rekan sejawatnya yang juga
seorang juara Olimpiade. Pernikahan mereka yang dilaksanakan di Jakarta menjadi
salah satu momen penting dalam hidupnya, menandai babak baru setelah pensiun
dari dunia bulu tangkis.
Dilansir dari beberapa sumber,
Setelah menikah Susi Susanti tetap terlibat dalam dunia bulu tangkis. Ia
mendirikan Olympic Badminton Hall di Kelapa Gading, Jakarta, untuk melatih
generasi penerus.
![]() |
| (Sumber: Liputan6.com) |
Bersama suaminya, Alan Budikusuma,
ia juga menciptakan raket merek Astec (Alan-Susi Technology). Selain itu, Susi
aktif sebagai komentator bulu tangkis di televisi, tetap memberikan
kontribusinya pada olahraga yang telah mengantarkannya ke puncak karier.
(Sjahrir)



Komentar
Posting Komentar