Di beranda senja, ia duduk menjahit sunyi
benangnya gemetar, jarumnya menusuk waktu
di dadanya—getar doa yang tak pernah gugur.
Di gang sempit, hujan mengetuk genting
suara sepatu bocah berlari
menampar kubangan, menggenangi ingatan
tentang tangan yang dulu menggandeng
kini hanya bayang yang meraba-raba
Ia menghirup bau kopi yang melingkar di udara
pahitnya meleleh di ujung lidah
seperti kata-kata yang tak sempat lahir
ditelan gelas-gelas kosong di meja warung
Pundaknya memikul angin
yang datang dari jauh, membawa kabar bisu
tentang lelaki yang tak kembali
tentang rumah yang tetap berdiri
tapi kehilangan arah pulang
Perempuan itu masih di sana,
menjahit sunyi dengan benang cahaya
dan setiap tusukan jarumnya
menganyam malam agar tak runtuh di matanya.
Oleh: Melin Maulinta
Komentar
Posting Komentar