Langsung ke konten utama

Tan Malaka: Seorang Nasionalis Muslim Bersemangat Marxis

Titik Intip BukuNaar De Republik Indonesia (Menuju Republik Indonesia) ini ditulis Tan Malaka di Kanton, Cina, pada 1925, tiga tahun sebelum deklarasi sumpah pemuda. Ketika para pejuang yang lain baru berpikir tentang persatuan, atau paling jauh tentang kemerdekaan Indonesia, Tan Malaka sudah jauh berpikir tentang Republik Indonesia, sebagai bentuk negara yang akan lahir pasca Hindia Belanda.

Pada prinsipnya, pemikiran-pemikiran Tan Malaka bermuara pada aspek tujuan kemerdekaan Indonesia. Namun, dalam buku ini Tan Malaka menginginkan adanya perombakan secara drastis pada semua sistem penyelenggara negara-politik, ekonomi, sosial, dan budaya, bahkan militer.

Bermula pada paparan situasi dunia pada saat perang dunia tahun 1914-1918 dalam lingkup ekonomi, dunia telah terbagi menjadi dua bagian:

1.     Negeri-negeri yang kalah, yaitu Jerman, Austria, Hongaria dan Turki. Juga rusia, dimana kaum buruh telah memegang kekuasaan dalam bidang ekonomi yang tergolong pada negeri-negeri itu.

2.     Negeri-negeri yang menang, yaitu Perancis, Italia, Amerika Serikat dan lain-lain.

Negeri-negeri yang telah memperoleh kemenangan atas negeri-negeri yang telah dikalahkan berhak dibiayai kerugian pasca perang, perampasan dan monopoli perdagangan, pengambilalihan wilayah-wilayah jajahan oleh negeri-negeri yang memenangkan peperangan, keharusan untuk tunduk bagi negeri yang kalah dan masih banyak lagi.

Selanjutnya, Tan Malaka beranggapan bahwa suatu saat negeri-negeri yang menjadi tiang penyangga kapitalisme akan runtuh dalam waktu cepat atau lambat akibat gelombang ekonomi politik yang menggelora pasca perang dunia atau atas dasar pukulan kaum proletariat yang mencoba mengikis bangunan kapitalisme itu sendiri. Kaum komunis di Indonesia tak akan menggantungkan politik melulu pada pengharapan, negeri-negeri kapitalis dunia runtuh terlebih dahulu.

 

Revolusioner yang membara di Indonesia dipicu karena kebijakan kolonialisme yang kian hari kian menyengsarakan rakyat. Suara merdu politik etis senantiasa berubah menjadi suara kobaran semangat rakyat dan perlawanan di beberapa daerah di Indonesia tanpa dibayangi rasa takut atas senapan dan pistol yang tak akan mampu mengundurkan rakyat yang sedang melangkah maju.

 

Kendati Tan Malaka menolak keras kompromi dengan orang-orang Belanda untuk menghapus pertentangan tajam dengan rakyat Indonesia. Sebab, kompromi dalam hal politik dan ekonomi sama saja merupakan hal yang kurang tegas.

 

Menambah jumlah anggota Volksraad dengan dua atau tiga orang lagi, atau memberi konsesi politik dan ekonomi sedikit lebih banyak kepada orang Indonesia akan berarti hanya satu tetes air saja diatas besi yang membara. Marx pernah berkata: “proletariat tak akan kehilangan sesuatu miliknya, kecuali belenggu budaknya”.

 

Kemudian, Tan Malaka berpandangan bahwa partai-partai yang ada di Indonesia haruslah menyusun program-program nasional dan penguraian yang jelas tentang jalan-jalan yang harus ditempuh (taktik). Pergerakan revolusioner di Indonesia senantiasa masih ada dan akan tetap ada.

 

Jika pergerakan ini hendak mendapatkan hasil, maka kita harus selangkah lebih maju untuk menyusun program ekonomi, politik, dan sosial sebagai bahan tuntutan dan prinsip untuk terus melawan belenggu imperalisme dan menyusun gambaran indonesia kedepan. Jika kita dapat melaksanakan program-program itu di Indonesia merdeka nantinya. Itu merupakan kemerdekaan yang nyata dibandingkan kemerdekaan yang ada di negara-negara modern dunia.

 

Buruh-buruh Indonesia akan memilliki industri yang besar dan melakukan kekuasaan yang nyata dalam hal ekonomi dan politik kenegaraan. Hal ini memperlihatkan bahwa pemikiran Tan Malaka selangkah lebih maju, sebab Tan Malaka tak hanya berfokus pada wilayah persatuan dan perjuangan kemerdekaan, namun ia merangcang bagaimana bentuk dari pada Indonesia itu sendiri pasca kemerdekaan.

 

Menurut Tan Malaka untuk menjamin pripenghidupan ekonomi di Indonesia dalam kemerdekaan nasional yang mungkin datang, kepada penduduk yang bukan proletar harus diberikan kesempatan (dalam jatah yang terbatas) mengusahakan hak milik perseorangan dan perusahaan-perusahaan kapitalisme. Negeri juga harus memberikan bantuan baik materil maupun moril, untuk meningkatkan produksinya.

 

Sudah barang tentu, perusahaan-perusahaan besar harus segera dinasionalisasi. Maka dari itu kegiatan ekonomi dapat berkembang tanpa khawatir akan datangnya kasta-kasta atau golongan lainnya. Dengan demikian pertimbangan ekonomi antara proletar dan bukan proletar dapat dicapai dan dipertahankan.

 

Konsepsi Tan Malaka tentang konstruksi masyarakat bangsa yang dibayangkan di masa depan melalui Naar De Republik Indonesia (1925), menunjukkan penjabaran pemikirannya tentang betapa pentingnya persatuan dan betapa berbahayanya perpecahan. Jika keretakan persatuan itu muncul, hal tersebut menjadi jalan buat pencuri-pencuri internasional (imperalis) untuk melaksanakan untuk ke sekian kalinya politik devide et imperanya (memecah belah rakyat dalam golongan-golongan untuk dikuasai).

 

Dan semua itu harus dicegah bukan melalui khutbah-khutbah atau pidato-pidato bombastis, tetapi melalui program nyata, realistis, juga bermanfaat bagi kepentingan-kepentingan materiel seluruh rakyat Indonesia. Oleh karena itu, Tan Malaka berkeyakinan bahwa pasca Hindia Belanda, dan setelah kemerdekaan dapat diraih, Indonesia harus berbentuk Republik. Namun, republik dalam pikiran Tan Malaka tidak menganut sistem Trias Politika sebagaimana Montesquieu. Tetapi sebuah negara republik yang dikelola oleh sebuah organisasi.

 

“Sekarang dengan wajarnya setelah harapan saya dapat melangsungkan hidup yang ¾ hukuman penjara ini, “tiga per-empat hidup di penjara”, demi kesehatan saya, di negeri dimana saya mempunyai hak hidup sepenuhnya, telah ditolak oleh pemerintah, saya kira buat sementara waktu semua harapan untuk kembali ke tanah air harus saya kesampingkan. Akan tetapi saya tak mau mengganggur. Saya kira saya dapat mengabdi pada partai, negara, dan rakyat Indonesia, jiwa saya dari sini dapat menghubungi golongan terpelajar (intelektuil) dari penduduk Indonesia dengan buku ini sebagai alat.”. (Tan Malaka)

 

Karena buku inilah, Mohammad Yamin menyebut Tan Malaka sebagai “Bapak Republik Indonesia”, yang disetarakan dengan George Washington yang merancang Republik Amerika Serikat sebelum negara itu merdeka. Bedanya, nama besar George Washington dijadikan sebagai nama ibukota negaranya, sementara nama besar Tan Malaka justru nyaris dilupakan oleh sejarah bangsanya.

 

Oleh: Des Ariyanto

Buku: Naar De Republik Indonesia (Menuju Republik Indonesia)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sukses Terbitkan 40 Buku Berbahasa Inggris, Penulis Cilik Ini Terbitkan Buku di Usia 11 Tahun!

Selintas— DeLiang Al-Farabi atau lebih akrab disapa Deliang menjadi sorotan setelah videonya dikabarkan viral di Amerika Serikat. Anak yang berasal dari Trenggalek, Jawa Timur ini berhasil merilis puluhan buku Berbahasa Inggris hingga mendobrak tingkatan best seller di Amerika Serikat. Foto: Jawa Pos DeLiang memiliki nama Lengkap Muhammad DeLiang Al-farabi. Ia lahir di Tapei, Taiwan, 18 Juni 2012. DeLiang merupakan putra dari pasangan Ario Muhammad dan Ratih Nur Esti Anggraini. Ia lahir saat ibunya sedang menempuh pendidikan Magister di Taiwan. Dilansir dari eddo.id, DeLiang memiliki 2 saudara, yakni seorang laki-laki dan saudari perempuan. Ia dibesarkan oleh orang tua yang juga memiliki pendidikan yang cukup tinggi yaitu dengan menyandang gelar MSc dan PhD bersama-sama. Kini, adik perempuan DeLiang juga mulai menekuni untuk menjadi seorang penulis cilik, Senin (3/3/2025). “Nama saya deliang. Nama lengkap saya Muhammad DeLiang Al-Farabi. Saat ini saya punya satu saudara laki-laki dan s...

Kisah di Balik Syair Unik Tob Tobi Tob (Sawt Safitri Al-Bubuli)

Selintas— Belakangan ini viral di media sosial fenomena syair dengan latar belakang bahasa Arab yang merupakan karya dari Sawt Safitri Al-BulBuli atau yang lebih dikenal dengan Tob tobi tob. Syair ini cukup menggemparkan jagat maya karena lantunan syairnya yang terbilang cepat dan cukup unik. Tak sedikit dari konten kreator yang mencoba untuk melantunkannya sebab menjadikan hal tersebut sebagai sebuah tantangan. Namun, dibalik keunikan dari syair Sawt Al-Safitri Al-Bulbuli atau Tob tobi tob ini terdapat sebuah kisah menarik yang menyertainya. Dilansir dari arina.id kisah menarik dibalik syair itu antara Al-Ashma’I dengan khalifah Ab Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas atau yang terkenal dengan nama Abu Ja’far Al-Manshur, khalifah ke-2 imperium Abbasid dan ke-21 dari urutan Rasulullah yang berkuasa selama 22 tahun. Syair ini sudah diciptakan sekitar 1300 tahun yang lalu. Kisah itu tertulis dalam kitab Nawadirul Khulafa atau nama lain I’lamun Naas Bi Ma Waqa’a Lil Barami...

Aksi Massa

Titikintipbuku— Nama Tan Malaka seolah terlupakan dari sejarah perjuangan Indonesia. Selama ini namanya diasosiasikan orang dengan pemberontakan dan gerakan radikal komunis tanpa pernah tahu latar belakang, pemikiran, serta upaya-upayanya menghalau imperalisme Barat di Indonesia. Dalam buku ini, Tan Malaka menunjukkan pemikirannya bahwa upaya perebutan kekuasaan dengan radikal (putch) bukanlah solusi terbaik, baginya, “putch itu adalah satu aksi segerombolan rakyat banyak. Gerombolan itu biasanya hanya membuat rancangan menurut kemauan dan kecakapan sendiri tanpa memperdulikan perasaan dan kesanggupan massa… ‘tukang-tukang putch’ lupa bahwa… revolusi timbul dengan sendirinya dengan hasil dari berbagai macam keadaan. Bila tukang-tukang putch’ pada waktu yang telah ditentukan oleh mereka sendiri, keluar tiba-tiba, massa tidak akan memberikan pertolongan kepada mereka. Bukan karena massa bodoh atau tidak memperhatikan, melainkan massa hanya berjuang untuk kebutuhan yang terdekat dan sesua...