Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2024

Putih: Refleksi Tentang Kehidupan, Kematian, dan Keabadian

Musikin — Efek Rumah Kaca (ERK), band asal Jakarta yang terbentuk pada 2001, dikenal karena Grup band yang tak terlalu dominan mengangkat lagu tentang percintaan柎tak seperti band-band pada umumnya. Foto: Cultura Digawangi oleh Cholil Mahmud, Adrian Yunan Faisal, dan Akbar Bagus Sudibyo, ERK menjadikan realitas sosial sebagai landasan eksplorasi dalam bermusiknya. Dengan gaya musik yang mudah didengar namun sarat makna, mereka mampu menyampaikan pesan mendalam yang dapat diterima berbagai kalangan seperti saya generasi Gen Z.   ERK sebenarnya bukan grup band yang asing lagi bagi saya. Sejak masih duduk di bangku SMA, saya sudah mengenal dan tak sedikit mendengarkan lagu-lagu mereka yang tidak hanya enak didengar, tetapi juga penuh semangat. Lagu-lagu seperti Di Udara, Sebelah Mata, Di Rahim Ibu, hingga Desember selalu berhasil membangkitkan suasana yang khas.   Salah satu karya dari ERK yang akhir-akhir ini membuat saya penuh dengan ingatan dengan hal-hal yang telah l...

Republik dalam Mimpi Tan Malaka

Titik Intip Buku — Dr Alfian menyebut Tan Malaka sebagai revolusioner kesepian. Mungkin tidak berlebihan. Tan Malaka memang pejuang kesepian dalam arti sesungguhnya. Sekitar 20 tahun (1922-1942) Tan Malaka hidup dalam pembuangan, tanpa didampingi teman seperjuangan. Beberapa kali dia harus meringkuk di penjara negara imperialis saat berada di Filipina dan Hong Kong, serta selama dua setengah tahun dipenjarakan tanpa pengadilan oleh pemerintah republik yang ia cita-citakan. Sebagai pelarian dan tahanan, Tan tak pernah berhenti memikirkan nasib Negeri Hindia Belanda. Banyak gagasan yang lahir selama masa pelarian itu. Namun Tan Malaka tak punya cukup kesempatan untuk mendialektikakan gagasannya dengan tokoh-tokoh pejuang lain. Ada perbedaan waktu dan pengalaman sejarah yang membuat Tan Malaka berjarak dengan pengikut-pengikutnya yang kemudian berada dalam barisan Partai Murba. Meski tetap dijadikan idola hingga saat ini, perangai dan prinsip perjuangan Tan sungguh tak bisa diikuti oleh...

Munir, Astrea, dan Misi Besarnya

Sosok — Munir Said Thalib adalah nama yang tak asing bagi banyak orang di Indonesia. Sebagai seorang pejuang hak asasi manusia, Munir tidak hanya dikenang karena dedikasinya, tetapi juga karena cara hidupnya yang mencerminkan keberanian dan komitmen untuk keadilan. Foto: Pinterest Pembunuhannya pada 7 September 2004  dalam penerbangan menuju amterdam  menjadi titik balik bagi masyarakat sipil dan menggugah kesadaran kolektif tentang pentingnya memperjuangkan hak asasi manusia di Indonesia.   Profil Munir Said Thalib   Lahir di Batu, Malang, Jawa Timur pada 8 Desember 1965. Munir Said Thalib atau sapaan karib nya adalah Munir. Beliau merupakan anak keenam dari tujuh bersaudara. Ayahnya bernama Said Thalib dan ibunya Jamilah Umar Thalib. Ia tumbuh dan bersekolah di kota kelahirannya, Malang, Jawa Timur.   Munir melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang dengan mengambil jurusan ilmu hukum. Selama di kampus, Munir aktif di berba...