Di ruang pengadilan yang sumpek,
bau tinta surat dakwaan bercampur dengan keringat para saksi.
Hakim duduk di singgasananya—
suaranya berderak seperti kayu tua,
membacakan pasal-pasal dengan lidah setengah kering.
Di luar sana, keadilan berjalan tertatih,
sepatunya berlubang, solnya tipis,
tergopoh-gopoh melintasi lorong-lorong sunyi
di mana para pemilik kuasa mengolesi telapak tangan
dengan minyak licin yang tak kasat mata.
Sementara itu, tidak adil duduk nyaman di kursi empuk,
membelah cerutu dengan gerahamnya,
asapnya melingkar, menari di bawah lampu temaram.
Ia tertawa serak, suaranya berat,
seberat kepastian yang ditulis di atas kertas
yang tak akan pernah sampai pada mereka
yang tangannya pecah oleh cangkul dan debu jalanan.
Seorang lelaki berdiri di depan meja hijau,
bibirnya retak, napasnya sesak,
kata-katanya tercekat seperti ikan terjerat kail.
Ia ingin bicara, ingin menolak,
tapi suara di dadanya telah diculik
oleh pasal yang ditikamkan tanpa ampun.
Di luar, gerimis turun tanpa suara,
membasuh jejak kaki keadilan yang semakin jauh,
tergopoh-gopoh mencari ruang
yang tak lagi ada.
Oleh: Melin Maulinta
Komentar
Posting Komentar