PP Muhammadiyah Tetapkan 1 Maret sebagai Awal Ramadhan, Idul Fitri 31 Maret, dan Idul Adha 6 Juni 2025
Selintas—Sekretaris Jendral Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Sayuti, dalam Konferensi Pers menyampaikan hasil maklumat no 1 tahun 2025 tentang penetapan hasil hisab Ramadhan, Syawal dan Dzulhijah 1446 H dalam kanal YouTube PP Muhammadiyah, Rabu (12/2/2025).
![]() |
| Foto: Net |
“Berdasarkan hasil hisab hakiki wujudul hilal yang dipedomani oleh majelis tarjih dan tajdid PP Muhammadiyah menetapkan tanggal 1 Ramadhan 1446 H dengan demikian jatuh pada hari sabtu pahing tanggal 1 maret 2025 M,” kata Sayuti.
“Terkait dengan bulan syawal 1446 H, di wilayah Indonesia pada tanggal 1 syawal 1446 H atau Idul Fitri jatuh pada hari senin pahing 31 maret 2025 M”, lanjutnya.
“Kemudian hari Arafah 9 Dzulhijah 1446 H jatuh pada hari kamis pon 5 juni 2025 M dan Idul Adha yang berarti 10 Dzulhijah 1446 H jatuh pada hari jum’at wage tanggal 6 juni 2025 M”, tandasnya.
Sementara itu, dengan datangnya bulan suci Ramadan, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan pesan-pesan, nasihat dan mengajak seluruh elemen keluarga besar Muhammadiyah dan masyarakat untuk tetap memiliki sikap toleransi terhadap keberagaman keagamaan dan menjadikan ibadah Ramadhan, Idul Fitri serta Idul Adha membawa sikap perubahan dan pencerahan.
“Agar ketika kita memasuki bulan ramadhan kalau ada perbedaan pelaksanaan diawal ramadhan bagi kita tetap mengedepankan toleransi atau tasamuh, hal itu adalah sebuah keberagaman keagamaan yang kita miliki dan jangan sampai hal itu memicu sebuah keretakan karena perbedaan”, kata Haedar.
“Setiap tahun kan melaksanakan puasa Ramadan, Idul Fitri, Idul Adha, kami PP Muhammadiyah mengajak untuk tidak stagnan, tidak berada di posisi jumud, dimana kita selalu melaksanakan ibadah-ibadah itu tetapi ibadah Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha itu mampu membawa proses perubahan dalam tindakan kita sebagai muslim muai dari individu maupun kolektif yang kami sebut membawa pencerahan”, lanjutnya.
Kemudian Haedar juga mengajak dan berharap bulan puasa menjadi sebuah proses internalisasi nilai, meningkatkan nilai spiritualitas, dan sebagai ladang untuk lebih meningkatkan ilmu dan hikmah bagi kita sebagai keluarga Muhammadiyan, masyarakat dan juga tokoh elit bangsa.
“Jadikan setiap ibadah Ramadhan sebagai proses internalisasi nilai yang membentuk pridadi-pribadi yang memiliki jiwa kerohanian yang tinggi, luhur terutama dalam sikap, tindakan, sehingga dalam agama kita dapat membawa maslahat bagi kehidupan dan teladan bagi kehiduapan”, kata Haedar.
“Elit bangsa jadikan momentum puasa ramadan untuk memperkaya keluhuran batin agar menjalakan amanah rakyat betul-betul penuh dengan spiriutualitas yang tinggi, jadikan amanah itu sebagai mandat luhur atas nama Allah yang melahirkan keterpercayaan, keadilan, kebaikan dan jiwa kenegarawanan seraya menjauhi nilai-niai yang buruk, korupsi, pemborosan, penyalahgunaan kekuasaan, sekaligus menunjukan arogansi diri sebagai pejabat publik yang kemudian kita tidak bisa menjadi teladan dihadapan warga masyarakat”, lanjutnya.
“Memperkaya ilmu dan hikmah, sehingga Indonesia betul-betul dibawa kepada tujuan dan cita-citanya sebagaimana pendiri bangsa yang kaya ilmu agar kita tidak melahirkan kebijakan-kebijakan yang salah, praktik hidup yang salah, dan mengurus Indonesia secara salah karena kurangnya ilmu dan hikmah. Sehingga Indonesia tidak dikelola secara pragmatis semata tetapi memerlukan kedalaman dan keluasan ilmu”, pungkasnya. (Des Ariyanto)

Komentar
Posting Komentar