Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2025

Tan Malaka: Seorang Nasionalis Muslim Bersemangat Marxis

Titik Intip Buku — Naar De Republik Indonesia (Menuju Republik Indonesia) ini ditulis Tan Malaka di Kanton, Cina, pada 1925, tiga tahun sebelum deklarasi sumpah pemuda. Ketika para pejuang yang lain baru berpikir tentang persatuan, atau paling jauh tentang kemerdekaan Indonesia, Tan Malaka sudah jauh berpikir tentang Republik Indonesia, sebagai bentuk negara yang akan lahir pasca Hindia Belanda. Pada prinsipnya, pemikiran-pemikiran Tan Malaka bermuara pada aspek tujuan kemerdekaan Indonesia. Namun, dalam buku ini Tan Malaka menginginkan adanya perombakan secara drastis pada semua sistem penyelenggara negara-politik, ekonomi, sosial, dan budaya, bahkan militer. Bermula pada paparan situasi dunia pada saat perang dunia tahun 1914-1918 dalam lingkup ekonomi, dunia telah terbagi menjadi dua bagian: 1.      Negeri-negeri yang kalah, yaitu Jerman, Austria, Hongaria dan Turki. Juga rusia, dimana kaum buruh telah memegang kekuasaan dalam bidang ekonomi yang tergolong p...

Profil Singkat Susi Susanti: The Ballerina Bulutangkis yang Mengukir Sejarah Emas untuk Indonesia

Sosok— Susi Susanti adalah seorang pebulu tangkis asal Indonesia yang dikenal dengan gaya bermainnya yang khas dan unik. Kariernya yang gemilang menjadikannya salah satu pemain tunggal putri terhebat dalam sejarah bulu tangkis Indonesia. Prestasinya yang paling menonjol adalah keberhasilannya meraih medali emas pertama untuk Indonesia di ajang Olimpiade. (Sumber: KONI Depok) Profil Susi Susanti   Lucia Franscisca Susi Susanti atau lebih dikenal dengan nama Susi Susanti adalah gadis kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, pada 11 Februari 1971. Susi dilahirkan dari pasangan Risad Haditono dan Purwo Benowati.   Dikutip dari beberapa sumber, Pada usia sekitar tujuh tahun, Susi Susanti mulai mengenal olahraga bulu tangkis. Ia lahir dalam keluarga yang memang sangat mencintai olahraga ini, di mana kedua orang tuanya hobi bermain bulu tangkis terkhusus ayah nya yang merupakan mantan atlet bulu tangkis profesional namun terhenti karna cidera lutut yang beliau alami.   ...

Topeng Bara Hasrat Sengkuni

(Sumber: De Journey) Di Bawah langit yang retak oleh dendam, Sengkuni menganyam dusta seperti benang emas, Setiap kata mengelus luka, menyulut api dalam jiwa. Ia bukan manusia, ia api yang tak pernah padam.   Dunia tunduk pada bisik halusnya, Seperti angin yang menyusup ke celah gelap, Menyulut bara yang disembunyikan bumi, Tapi ia lupa, abu pun bisa mencekik udara.   Setiap langkahnya adalah bayang-bayang bulan, Bersinar lembut, tapi menyimpan tajam pisau malam, Ia mengukir mimpi yang dirajut dari malam gelap, Namun mimpinya selalu berakhir dalam jurang.   Sengkuni adalah burung tanpa sarang, Terbang tinggi di atas reruntuhan hati manusia, Menanti celah untuk mencuri warna fajar, Tapi ia hanya menyisakan gelap dalam mata.   Pada akhirnya, langit tak bisa ditipu selamanya, Hujan turun seperti kebenaran yang mengguyur, Membasahi topengnya hingga lapuk dan hancur, Menyisakan wajah—bara yang kini menjadi debu.   Ole...

W.S. Rendra, Si Burung Merak yang Mewarnai Pentas Sastra dan Teater Indonesia

Sosok— Willibrordus Surendra Broto Narendra atau lebih di kenal dengan W.S Rendra, adalah seorang sastrawan, penyair, dan tokoh teater Indonesia yang terkemuka. Foto: Tempo.co Lahir di Surakarta (Solo), Jawa Tengah pada 7 November 1935 dan meninggal di Depok, Jawa Barat pada tanggal 6 Agustus 2004 di usianya yang 74 tahun. Rendra lahir dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharian Ismadillah. Ayahnya merupakan seorang guru bahasa Indonesia dan bahasa Jawa di sekolah Katolik Solo, juga seorang dramawan tradisional, sementara ibunya adalah seorang penari serimpi di keraton Surakarta. (Kumparan.com) Rendra memulai pendidikannya dari TK (1942) hingga menyelesaikan sekolah menengah atasnya, SMA (1952), di sekolah Katolik, Solo. Setamat SMA, Rendra pergi ke Jakarta dengan maksud bersekolah di Akademi Luar Negeri. Ternyata akademi tersebut telah ditutup. Lalu, ia pergi ke Yogyakarta dan masuk Fakultas Sastra, Universitas Gajah Mada. Walaupun tidak menyelesaikan kuliah...

Hujan-Hujan Begini, Enaknya Ngapain? Aktivitas Seru di Rumah Saat Hujan

Selintas — Pernah nggak warga sekalian waktu turun hujan males banget mau ngapa-ngapain? Yap, mungkin sama ya kayak mimin yang waktu datang hujan ntah pagi, siang, ataupun malem bawaan nya males banget kau kemana-mana atau aktivitas apa-apa. (Foto: Liputan 6) Nah, Hujan bisa dibilang fenomena alam yang sering kali membawa beberapa kesan bagi sebagian orang nih para warga. Ketika hujan turun, suasana seketika berubah menjadi lebih tenang. Tak jarang, banyak orang merasa lebih malas untuk beraktivitas di luar ruangan dan memilih untuk menikmati momen tersebut dengan cara yang lebih santai.   Hujan-hujan begini, tak banyak yang bisa dilakukan—namun para warga tetap bisa melakukan aktivitas, mulai dari sekadar bersantai di rumah hingga berkegiatan yang dapat mendatangkan ketenangan.   Berikut ini mimin ada beberapa rekomendasi yang bisa para warga lakukan diwaktu hujan saat sedang di rumah. 1.      Membaca Buku Mungkin salah satu aktivitas yang pali...

Sastra dari Jalanan, Soesilo Toer dan Memulung Makna dari Kehidupan

Sastra— Dikenal sebagai adik dari penulis terkenal Pramoedya Ananta Toer, Soes sapaan akrab dari Soesilo Toer yang merupakan seorang sastrawan dan penulis asal Blora, Jawa Tengah. (Foto: Zona  Mahasiswa) Sang sastrawan dan penulis yang lahir pada 17 Februari 1934 ini, mengenyam pendidikan perguruan tinggi di Universitas Indonesia jurusan Ekonomi kemudian pindah ke Akademi Keuangan Bogor.   Perkuliahannya pun sempat kandas dari kedua kampus tersebut dikarenakan biaya yang tinggi. Namun, Soes mampu menyelesaikan perkuliahan Diplomanya di Akademi Keuangan Bogor yang berada dibawah Badan Pengawas Keuangan (BPK).   Pada 1962, Soes berhasil lolos dalam penjaringan beasiswa otoritas Rusia dari 9.000 orang yang mendaftar hanya 30 diterima dalam penjaringan tersebut dan Soes adalah salah satunya. Ditahun yang sama, ia diberangkatkan setelah menikah dengan istri pertamanya.   Soesilo Toer menghabiskan sebelas tahun di Rusia, dari tahun 1962 hingga 1973, untu...