Sastra—Dikenal sebagai adik dari penulis terkenal Pramoedya Ananta Toer, Soes sapaan akrab dari Soesilo Toer yang merupakan seorang sastrawan dan penulis asal Blora, Jawa Tengah.
![]() |
| (Foto: Zona Mahasiswa) |
Sang sastrawan dan penulis yang lahir pada
17 Februari 1934 ini, mengenyam pendidikan perguruan tinggi di Universitas
Indonesia jurusan Ekonomi kemudian pindah ke Akademi Keuangan Bogor.
Perkuliahannya pun sempat kandas dari
kedua kampus tersebut dikarenakan biaya yang tinggi. Namun, Soes mampu menyelesaikan
perkuliahan Diplomanya di Akademi Keuangan Bogor yang berada dibawah Badan
Pengawas Keuangan (BPK).
Pada 1962, Soes berhasil lolos dalam
penjaringan beasiswa otoritas Rusia dari 9.000 orang yang mendaftar hanya 30
diterima dalam penjaringan tersebut dan Soes adalah salah satunya. Ditahun yang
sama, ia diberangkatkan setelah menikah dengan istri pertamanya.
Soesilo Toer menghabiskan sebelas tahun di
Rusia, dari tahun 1962 hingga 1973, untuk mengejar pendidikan Pasca-sarjana.
Selama di sana, ia melanjutkan studi di Fakultas Ekonomi dan Politik
Universitas Patrice Lumumba, sebelum meraih gelar Doktor dibidang Ekonomi dan Politik
dari Institut Perekonomian Rakyat Plekhanov.
Pendalamannya terhadap filosofi Marxisme
dan Leninisme, khususnya dalam konteks realisme sosial, memberi warna pada
perjalanan akademisnya. Meskipun tidak lulus dengan predikat cumlaude, Soesilo
tetap berkomitmen untuk bekerja dua tahun di Rusia sebagai bagian dari
kewajibannya, menunjukkan dedikasi yang tinggi terhadap disiplin ilmunya.
Setelah kembali ke Indonesia, Soesilo Toer
aktif menulis dan menerbitkan berbagai karya sastra yang mencerminkan
pandangannya terhadap kehidupan sosial dan politik di Indonesia.
Dari sumber yang saya kutip, Berbeda halnya
dengan Pram yang mulai menulis saat usianya 15 tahun, Soes memulai perjalanan
menulisnya saat ia menginjak usia 13 tahun. Hal tersebut dikarenakan sewaktu ia
duduk dibangku SMP hanya diberikan Rp. 10 perbulan dan apabila kekurangan
jajan, ia disuruh untuk mencari tambahan sendiri, dan Soes melakukan nya dengan
menulis.
Tulisannya yang pertama diterbitkan di Majalah Kunangkunang terbitan Balai
Pustaka, berjudul "Aku Ingin Jadi Jenderal". Semua referensi dari
bahan tulisan pada masa mudanya berasal dari majalah loak asing. Hampir semua
hal ia tulis, bahkan hingga soal cerpen, cerbung (cerita bersambung),
dan novel.
Meskipun dikenal sebagai seorang doktor
lulusan universitas di Uni Soviet. Namun, ia menjalani hidup yang jauh dari
kemewahan gelar akademisnya. Selain mengelola Perpustakaan Pataba di rumah masa
kecil Pramoedya, ia tetap aktif di dunia perbukuan, bahkan pada usia lanjut.
Diluar dunia akademik, ia menjalani
kehidupan yang sederhana dan penuh perjuangan. Setiap harinya, ia hidup dari
menjual buku, menulis, menyunting, dan bahkan memulung sampah.
Meskipun memiliki gelar Doktor dan
mengelola perpustakaan yang diakui hingga ke luar negeri, ia tidak ragu untuk
terjun ke jalanan Kota Blora sebagai pemulung. Kegiatan ini sudah ia lakukan
sejak kecil, dan bahkan berlanjut sampai di usianya yang senja, ia masih
melanjutkan hobi tersebut dengan tekun, mengumpulkan barang-barang bernilai
jual mulai dari botol, kardus, hingga koran, setiap malam hingga dini hari.
Disamping itu, ia juga menjual ayam dan
kambing serta terus mengelola Pataba Press, penerbitan yang dimulai sejak 2009
dengan menerbitkan zine (buletin independen). Pataba Press menjadi wadah bagi
ia untuk terus berkarya, sekaligus sebagai bagian dari Lembaga Kajian Budaya
dan Lingkungan Pasang Surut yang ia dirikan.
Dari hasil memulung yang kadang hanya
menghasilkan Rp.25.000, ia tetap mempertahankan semangat hidup yang mandiri dan
berbasis pada prinsip sederhana. Hal tersebut membuktikan bahwa gelar doktor dan
kesuksesan akademis tidak selalu berhubungan dengan kemewahan atau status
sosial.
Soesilo Toer, seorang penulis yang telah
lama berkiprah di dunia sastra, terus mendapatkan pengakuan atas karyanya. Dari
beberapa sumber yang dikutip, Pada 2018 novel Dunia Samin, ia berhasil
meraih hadiah Prasidatama dari Balai Bahasa Jawa Tengah sebagai Novel terbaik.
Ditahun yang sama, ia juga menerima
penghargaan dari Bupati Blora, Djoko Nugroho, atas perannya sebagai mentor bagi
para penulis muda. Penghargaan ini mencerminkan kontribusinya yang tak hanya
dalam berkarya, tetapi juga dalam membimbing generasi penerus sastra.
Penghargaan bagi Soesilo Toer tidak
berhenti disitu. Pada 2023, ia dianugerahi penghargaan sebagai Tokoh Sastra dan
Penulis Aktif hingga Lansia oleh Jawa Pos Radar Kudus, sebuah pengakuan atas
dedikasinya yang terus berlanjut meskipun usia tak muda lagi.
Lebih lanjut, pada 2024, bukunya yang
berjudul Komponis Kecil, yang mengisahkan perjalanan hidup Idris Sardi
berhasil masuk dalam rekomendasi buku sastra untuk Kurikulum SD/MI, yang
diluncurkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim. Ini adalah
bukti bahwa karya Soesilo Toer tetap relevan dan memberi dampak positif bagi
dunia pendidikan dan sastra Indonesia.
Soes seorang penulis yang telah
menghasilkan karya-karya beragam dengan tema dan genre yang menarik. Beberapa karya-karyanyapun
mencerminkan perjalanan hidup dan pandangannya terhadap berbagai aspek
kehidupan, dari cerita anak-anak hingga biografi yang kontroversial.
![]() |
| (Foto: tatkala.co) |
Novel Suka Duka si Pandir (1963)
menunjukkan kepiawaiannya dalam bercerita melalui narasi yang menggugah.
Kumpulan cerita anak-anak seperti Komponis Ketjil dan Tjerita-tjerita Lain
(1963) menjadi bukti kontribusinya dalam dunia sastra untuk generasi muda.
Memoarnya seperti Seribu Wajah Pram dalam
Kata dan Sketsa (2009) dan Bersama Mas Pram: Memoar Dua Adik Pramoedya Ananta
Toer (2009), memberikan pandangan mendalam tentang hubungan dan perannya
sebagai adik dari sastrawan besar, Pramoedya Ananta Toer. Sementara itu,
biografi seperti Di Antara Pena, Perempuan dan Keberanian serta Trilogi
kontroversial Pram dan Seks menampilkan keberanian Soesilo dalam mengangkat
topik yang kerap dihindari.
Tidak hanya itu, ia juga menulis cerita
legenda seperti Legenda Gunung Kemukus, Putri Sendang Wungu, dan Legenda
Kedungombo, yang menunjukkan upayanya melestarikan warisan budaya lokal melalui
sastra.
Melalui karyanya yang berjudul Mutiara dari Blora, Pataba. Soesilo Toer mengukuhkan dirinya sebagai penulis yang tidak hanya produktif tetapi juga memiliki suara yang khas dalam karya. (Melin dan Sjahrir)


Komentar
Posting Komentar