Titik Intip Buku—Dr Alfian menyebut Tan Malaka sebagai revolusioner kesepian. Mungkin tidak berlebihan. Tan Malaka memang pejuang kesepian dalam arti sesungguhnya. Sekitar 20 tahun (1922-1942) Tan Malaka hidup dalam pembuangan, tanpa didampingi teman seperjuangan. Beberapa kali dia harus meringkuk di penjara negara imperialis saat berada di Filipina dan Hong Kong, serta selama dua setengah tahun dipenjarakan tanpa pengadilan oleh pemerintah republik yang ia cita-citakan.
Sebagai pelarian dan tahanan, Tan tak pernah berhenti memikirkan nasib
Negeri Hindia Belanda. Banyak gagasan yang lahir selama masa pelarian itu.
Namun Tan Malaka tak punya cukup kesempatan untuk mendialektikakan gagasannya
dengan tokoh-tokoh pejuang lain. Ada perbedaan waktu dan pengalaman sejarah
yang membuat Tan Malaka berjarak dengan pengikut-pengikutnya yang kemudian
berada dalam barisan Partai Murba. Meski tetap dijadikan idola hingga saat ini,
perangai dan prinsip perjuangan Tan sungguh tak bisa diikuti oleh siapa pun.
Hatinya terlalu teguh untuk diajak berkompromi dan punggungnya terlalu lurus
untuk diajak sedikit membungkuk.
Kita bisa melihat beberapa contoh bahwa memang sulit mencari manusia yang
bisa mengikuti kekerasan hatinya. Adam Malik, misalnya, adalah kader Partai
Republik Indonesia yang sangat memuja Tan Malaka. Namun, di tangan Adam Malik,
segala persoalan bisa menjadi superfleksibel. M. Yamin adalah pengikut Tan
Malaka yang juga mendirikan Persatuan Perjuangan pada 1946. Persatuan
Perjuangan adalah ikon diplomasi bambu runcing. Organisasi ini didirikan
sebagai antitesis politik berunding yang dirintis oleh Kabinet Sjahrir I. Tapi,
belakangan, Yamin juga menjadi anggota tim dalam Konferensi Meja Bundar pada
1949, sesuatu yang secara prinsip ditentang dalam "Program Minimum"
Persatuan Perjuangan Tan Malaka.
Di tengah kesepian dan kesulitan memperoleh pengikut yang kukuh itulah ia
melahirkan gagasan-gagasan yang jernih, asli, bahkan mengagetkan. Mungkin
gagasan itu tak sepenuhnya bisa diikuti, tapi jelas penuh inspirasi. Soal
pelaksanaannya bisa dicocokkan dengan keadaan yang berkembang.
Gagasan Tan Malaka tentang Republik Indonesia tersebar di banyak buku. Ia
tak punya kesempatan untuk menuliskannya secara tuntas. Gejolak revolusi
mengharuskan revolusioner seperti Tan berada dalam kancah perjuangan fisik
ketimbang di belakang meja. Namun, lewat antara lain buku Menuju Republik
Indonesia (1926), Soviet atau Parlemen (1922), serta Madilog (1942), kita bisa
menyatukan mozaik gagasan republik yang tercerai-berai itu. Tak sulit untuk
menyatukan mozaik ini, karena Tan selalu menunjukkan pola pemikirannya.
Tan memberikan perumpamaan tentang burung gelatik untuk menjelaskan
republik yang ia angankan. Burung ini terlihat seperti makhluk yang lemah.
Banyak yang mengancamnya. Di dahan yang rendah, dia harus waspada terhadap
kucing yang siap menerkam. Tapi dahan yang lebih tinggi juga bukan merupakan
tempat yang aman baginya. Ada elang yang siap menyambar sang gelatik sehingga
hidupnya tak merdeka. Ia hidup penuh ketakutan dan dengan perasaan terancam.
Serba tak bebas. Bagi Tan Malaka, Indonesia harus bebas dari ketakutan seperti
ini. Bebas dari belenggu dan teror pemangsa.
Tapi, jika burung gelatik berada dalam satu rombongan besar, ia akan bebas
menjarah padi di saat sawah sedang menguning. Burung gelatik, yang sesaat lalu
terlihat seperti makhluk yang lemah, bisa berubah drastis menjadi pasukan
penjarah yang rakus tiada ampun. Keringat petani selama empat bulan terbuang
sia-sia. Padinya habis disantap sekawanan gelatik.
Selain bebas dari penjajahan, merdeka bagi Tan Malaka bukan berarti bebas
menjarah dan menghancurkan bangsa lain. Merdeka itu dua arah: bebas dari
ketakutan dan tidak menebar teror terhadap bangsa lain. Inilah prinsip
Indonesia merdeka.
Setelah merdeka, bangunan Indonesia harus punya bentuk. Ketika para pejuang
lain baru berpikir tentang persatuan, atau paling jauh berpikir tentang
Indonesia Merdeka, Tan Malaka sudah maju beberapa langkah memikirkan Republik
Indonesia. Brosur Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) sudah
ditulis di Kanton, Cina, pada 1925, tiga tahun sebelum deklarasi Sumpah Pemuda.
Tan Malaka tegas bahwa eks Hindia Belanda harus menjadi Republik Indonesia.
Namun republik dalam gagasan Tan Malaka tak menganut trias politika ala
Montesquieu. Republik versi Tan Malaka adalah sebuah negara efisien. Republik
yang dikelola oleh sebuah organisasi.
Tan Malaka sejatinya tak percaya terhadap parlemen. Bagi Tan Malaka,
pembagian kekuasaan yang terdiri atas eksekutif, legislatif, dan parlemen hanya
menghasilkan kerusakan. Pemisahan antara orang yang membuat undang-undang dan
yang menjalankan aturan menimbulkan kesenjangan antara aturan dan realitas.
Pelaksana di lapangan (eksekutif) adalah pihak yang langsung berhadapan dengan
persoalan yang sesungguhnya. Eksekutif selalu dibuat repot menjalankan tugas
ketika aturan dibuat oleh orangorang yang hanya melihat persoalan dari jauh
(parlemen).
Demokrasi dengan sistem parlemen melakukan ritual pemilihan sekali dalam 4,
5, atau 6 tahun. Dalam kurun waktu demikian lama, mereka sudah menjelma menjadi
kelompok sendiri yang sudah berpisah dari masyarakat. Sedangkan kebutuhan dan
pikiran rakyat berubah-ubah. Karena para anggota parlemen itu tak
bercampur-baur lagi dengan rakyat, seharusnya mereka tak berhak lagi disebut
sebagai wakil rakyat. Konsekuensinya adalah parlemen memiliki kemungkinan
sangat besar menghasilkan kebijakan yang hanya menguntungkan golongan yang
memiliki modal, jauh dari kepentingan masyarakat yang mereka wakili. Menurut
Tan, parlemen dengan sendirinya akan tergoda untuk berselingkuh dengan
eksekutif, perusahaan, dan perbankan.
Kalau kita tarik ke zaman sekarang, mungkin Tan Malaka bisa menepuk dada.
Dia akan menyuruh kita menyaksikan sebuah negara yang parlemennya dikuasai oleh
wakil buruh, seperti Inggris, kemudian menyetujui penggunaan pajak hasil
keringat buruh untuk berperang menginvasi negara lain.
Akhirnya, parlemen di mata Tan Malaka tak lebih dari sekadar warung tempat
orang-orang adu kuat ngobrol. Mereka adalah para jago berbicara dan berbual,
bahkan kalau perlu sampai urat leher menonjol keluar. Tan Malaka menyebut
anggota parlemen sebagai golongan tak berguna yang harus diongkosi negara
dengan biaya tinggi.
Singkatnya, keberadaan parlemen dalam republik yang diimpikan Tan Malaka
tak boleh ada. Buku Soviet atau Parlemen dengan tegas memperlihatkan pendirian
Tan Malaka. Sampai usia kematangan berpikirnya, Tan tak banyak berubah, kecuali
dalam soal ketundukan kepada Komintern Moskow. Karena pendirian ini pula Tan
Malaka sangat keras menentang Maklumat Wakil Presiden Nomor X pada 1945 tentang
pendirian partai-partai. Sebab, partai-partai pasti bermuara di parlemen.
Lalu seperti apa wujud negara tanpa parlemen itu? Penjelasannya memang bisa
memakan halaman yang sangat banyak. Sederhananya, negara dalam mimpi Tan Malaka
dikelola oleh sebuah organisasi tunggal. Dalam tubuh organisasi itulah dibagi
kewenangan sebagai pelaksana, sebagai pemeriksa atau pengawas, dan sebagai
badan peradilan.
Anda bisa membayangkan organisasi yang berskala nasional seperti Nahdlatul
Ulama dan Muhammadiyah. Bangunan organisasinya dari tingkat terendah sampai
tingkat nasional bisa diandaikan seperti itu. Tidak ada pemisahan antara si
pembuat aturan dan si pelaksana aturan. Di dalam organisasi yang sama pasti ada
semacam dewan pelaksana harian, dan ada sejenis badan kehormatan atau komisi
pemeriksa. Begitulah kewenangan dibagi, tapi tidak dalam badan yang terpisah.
Bagaimana mengontrol organisasi agar tak menjadi tirani kekuasaan?
Disinilah desain organisasi harus dimainkan. Ritual pemilihan pejabat
organisasi tak boleh dalam selang waktu yang terlalu lama, agar kepercayaan tak
berubah menjadi kekuasaan, agar amanah tidak berubah menjadi serakah. Kongres
organisasi, dari tingkat terendah sampai tingkat tertinggi, harus dilakukan
dalam jarak yang tak terlalu lama. Waktu dua tahun mungkin ideal untuk
mengevaluasi kerja para pejabat organisasi. Jika kerja mereka tak memuaskan,
kongres organisasi akan menjatuhkan mereka.
Barangkali banyak pembaca yang mengatakan bangunan kenegaraan seperti di
atas jauh dari demokratis. Hal itu sangat wajar. Sebab, sudah demikian lama
otak kita dicekoki oleh trias politika ala Montesquieu. Jika bangunan
organisasi tanpa badan legislatif dianggap tak demokratis, boleh juga kita
mengatakan bahwa partai politik, organisasi kemasyarakatan, ASEAN, bahkan
Perserikatan Bangsa-Bangsa merupakan lembaga yang tak demokratis.
Di luar itu, bisa jadi pula ada yang mengatakan gagasan Tan Malaka naif dan
tak bisa diikuti. Pendapat itu pun wajar. Seperti pernyataan penulis di awal
tulisan ini, tak ada yang bisa dengan total mengikuti Tan Malaka. Selain
terlalu lurus, Tan Malaka pasti tak bisa lepas dari belenggu zamannya. Namun
tak ada salahnya kita menulis ulang semangat dalam gagasan kenegaraan Tan
Malaka. Dalam Thesis, Tan meminta rakyat Indonesia tak menghafalkan hasil
berpikir seorang guru. Yang penting adalah cara dan semangat berpikirnya.
Ibarat seorang guru matematika, Tan tak ingin menuntut muridnya menghafal hasil
sebuah perhitungan, tapi menguasai cara berpikir untuk bisa memperoleh hasil
hitungan yang benar.
Oleh: M. Fais Al-Qornik
Buku: Tan Malaka, Bapak Republik
Yang Dilupakan

Komentar
Posting Komentar