Esai—Tahun 2024 Indonesia memasuki usia 79 tahun. Jika disamakan pada proses pertumbuhan manusia, usia 79 tahun merupakan usia senja, tua, renta, tidak produktif, bahkan mungkin juga usia dekat dengan kematian. Tetapi usia 79 tahun bagi negara tentu masih usia anak-anak, merangkak menuju remaja. Ya, jika dibandingkan dengan negara adidaya maju lainnya, tentu peradaban Indonesia masih terlalu timpang.
Mari sama-sama mengingat tahun 1596 Belanda mulai menginvasi Indonesia,
lalu kejatuhan total secara ekonomi dimulai tahun 1602, tahun VOC didirikan
Belanda. Sebelum itu, mari juga kita garis bawahi, bahwa setiap konstelasi
lokal adalah pajang tangan dari konstalasi global. VOC merupakan strategi
imperialis untuk menghegemoni ekonomi Indonesia.
Mari kita juga mengingat Kejatuhan paling parah pandangan kenegaraan
terjadi pada tahun 1890-an, dirumuskannya konsep nation-state atau negara
bangsa oleh Ernest Renan, Hal ini mampu mempengaruhi pandangan kenegaraan.
Mula-mula mayoritas kenegaraan atau konsep bernegara bernuansa kerajaan
(monarki absolut). Sejak konsep tersebut, mayoritas negara berubah menjadi
negara bangsa.
Dinamika terus berlanjut di negeri Nusantara. Dikuasai selama berabad-abad,
lalu di perang dunia II Hindia Belanda (sebutan Indonesia pada masa Belanda
menjajah) sempat dikuasai oleh Jepang. Mengusung konsep Nippon cahaya asia,
seolah menjadi penolong tetapi juga menguasai secara politik maupun ekonomi.
Peristiwa Hiroshima dan Nagasaki 6 dan 9 Agustus 79 tahun lalu membuat
Jepang kalah, posisi Hindia Belanda menjadi kosong kekuasaan (Vacum Of Power).
Hal ini dimanfaatkan oleh para pemuda mendesak golongan tua untuk
memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Peristiwa tersebut terkenal dengan
sebutan Rengasdengklok.
Semenjak itu Indonesia menjadi negara bebas atau merdeka dari kolonialisme
dan imperialisme secara dejure dan defacto. Apakah pergulatan itu sudah
berakhir?. Tentu saja tidak, perang persenjataan memanglah berakhir pasca
perang dunia II. Kemudian perang dilanjutkan dengan strategi jitu, pengaruh
ekonomi politik secara halus. Dikenal dengan istilah perang asimetris.
Lupakan beberapa dinamika pasca merdeka. Kelengseran Soekarno sejatinya
adalah kemenangan kapitalis. Hal ini dibuktikan dengan di tandatangani nya
kontrak Freeport di Indonesia, disepakati oleh presiden Soeharto. Itulah
konstelasi nasional yang kental dipengaruhi global.
Kembali pada peristiwa 79 tahun lalu. Mari resapi dan renungi, akankah kita
terus menerus menyikapi kemerdekaan secara ceremony saja?. Kapankah kita
beranjak melompati alam fikiran kita, lalu berfikir bagaimana caranya terlepas
dari hegemoni Barat.
Hari ini, kita harus terus Mengingat bahwa segala sektor di bumi Nusantara
ini adalah penguatan terhadap ikatan asing. Lalu, cara apa yang ampuh untuk
mengatasi masalah besar tersebut?, tentu saja tidak dengan waktu semalam
suntuk, kopi segelas tak cukup mampu menjadi teman revolusi.
Pendidikan tentu saja memiliki peran utama, mengingat wajah peradaban
mutlak milik pendidikan. Bisa dikatakan pendidikan merupakan superhero atau
winning solution Indonesia dalam mengatasi setiap kebutaan generasi, masalah
sosial, politik, ekonomi, dan berbagai persoalan lainnya.
Mari kita terus berbenah, mawas diri, upgrade diri, semua ini demi anak
cucu kita kelak, tabungan masa depan bangsa kita murni tangung jawab kita.
Dunia selalu mengingat peristiwa revolusi Prancis, dimulai dari terbentuknya
mental pemikir dari setiap sudut-sudut cafe, jalanan, mungkin juga post ronda.
Mari kita terus optimis wahai kaum intelektual. (Tukang Kopi Mbah Marx)

Komentar
Posting Komentar