Sosok—Willibrordus Surendra Broto Narendra atau lebih di kenal dengan W.S Rendra, adalah seorang sastrawan, penyair, dan tokoh teater Indonesia yang terkemuka.
![]() |
| Foto: Tempo.co |
Lahir di Surakarta (Solo), Jawa Tengah pada 7 November 1935 dan meninggal di Depok, Jawa Barat pada tanggal 6 Agustus 2004 di usianya yang 74 tahun.
Rendra lahir dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharian Ismadillah. Ayahnya merupakan seorang guru bahasa Indonesia dan bahasa Jawa di sekolah Katolik Solo, juga seorang dramawan tradisional, sementara ibunya adalah seorang penari serimpi di keraton Surakarta. (Kumparan.com)
Rendra memulai pendidikannya dari TK (1942) hingga menyelesaikan sekolah menengah atasnya, SMA (1952), di sekolah Katolik, Solo.
Setamat SMA, Rendra pergi ke Jakarta dengan maksud bersekolah di Akademi Luar Negeri. Ternyata akademi tersebut telah ditutup. Lalu, ia pergi ke Yogyakarta dan masuk Fakultas Sastra, Universitas Gajah Mada.
Walaupun tidak menyelesaikan kuliahnya, tidak berarti ia berhenti belajar. Tahun 1954 ia memperdalam pengetahuannya dalam bidang tari dan drama di Amerika. Ia mendapat beasiswa dari American Academy Of Dramatical Art (AADA). (badanbahasa.kemendikbud.go.id)
Kiprahnya di dunia sastra dimulai pada tahun 1952 ketika beliau pertama kali mempublikasikan puisinya melalui majalah siasat.
Puisi-puisinya dengan cepat menarik perhatian dan menghiasi berbagai majalah pada masa itu, seperti kisah, seni, basis, konfrontasi, dan siasat baru.
Pada tahun 60-70an, karyanya terus dipublikasi di majalah. Selain menulis puisi, ia kerap kali menulis naskah skenario drama, cerpen, dan esai sastra di berbagai media massa.
Tahun 1967 ia mendirikan Bengkel teater di Yogyakarta. Bengkel teater juga sudah banyak melahirkan banyak tokoh seniman seperti Sitok Srengenge, Radhar Panca Dahana, Adi Kurdi dan banyak lagi.
![]() |
| Foto: Kabar Muda |
Penyair, dramawan, budayawan dan juga pujangga WS Rendra merupakan sosok yang sangat menjaga dalam hal penampilan dan selalu tampil energik. Ia memiliki pengaruh besar dalam dunia teater di Indonesia.
Karyanya banyak yang telah diterjemahkan kedalam berbagai bahasa asing. Rendra juga dikenal dengan julukan “burung merak” karena penampilannya sebagai deklamator yang selalu penuh pesona.
Kumpulan karya W.S. Rendra yang dapat kita telisik dan nikmati seperti:
- Kumpulan sajak/puisi
1. Ballada orang-orang tercinta (1957)
2. Kumpulan sajak (1961)
3. Blues untuk bonnie (1971)
4. Sajak-sajak sepatu tua (1972)
5. Potret pembangunan dalam puisi (1983)
6. Nyanyian orang urakan (1985)
7. Disebabkan oleh angin (1993)
8. Orang-orang rangkas bitung (1993)
- Naskah drama
1. Orang-orang di tikungan jalan (1954)
2. Selamatkan anak cucu Sulaiman (1967)
3. Mastodon dan burung kondor (1972)
4. Kisah perjuangan suku naga (1975)
5. Sekda 1977 (1977)
6. Panembahan Reso (1986)
- Kumpulan esai Mempertimbangkan Tradisi (1983)
Beberapa karya rendra telah diterjemahkan ke dalam bahasa inggris, jerman, jepang, hindi dan belanda. Rendra pun sering mendapat beberapa penghargaan dan hadiah seperti:
1. Hadiah sastra nasional BMKN tahun 1957
2. Anugerah seni dari menteri pendidikan dan kebudayaan tahun 1970
3. Hadiah dari akademi jakarta tahun 1975
4. Hadiah dari adam malik tahun 1989
5. Wertheim award untuk perjuangan hak-hak asasi kemanusiaan dalam seni tahun 1996
6. SEA write award tahun 1996. (ensiklopedia sastra indonesia)
Karya-karya W.S. Rendra menggambarkan elemen-elemen fundamental yang diperlukan dalam menjalani kehidupan dan perjuangan.
Setiap unsur kata yang ia rajut memiliki makna simbolis yang saling melengkapi. Rendra meninggalkan warisan seni dan sastra yang akan tetap hidup dan menjadi sumber inspirasi bagi generasi-generasi penerus.
Tentu, Rendra bukan hanya seorang maestro. Namun, di setiap karyanya sangatlah jelas dan mampu menegaskan bahwa akan senantiasa memberikan warna abadi dan perjalanan dalam kesusastraan Indonesia. (Des Ariyanto)


Komentar
Posting Komentar