Di ruang pengadilan yang sumpek, bau tinta surat dakwaan bercampur dengan keringat para saksi. Hakim duduk di singgasananya— suaranya berderak seperti kayu tua, membacakan pasal-pasal dengan lidah setengah kering. Di luar sana, keadilan berjalan tertatih, sepatunya berlubang, solnya tipis, tergopoh-gopoh melintasi lorong-lorong sunyi di mana para pemilik kuasa mengolesi telapak tangan dengan minyak licin yang tak kasat mata. Sementara itu, tidak adil duduk nyaman di kursi empuk, membelah cerutu dengan gerahamnya, asapnya melingkar, menari di bawah lampu temaram. Ia tertawa serak, suaranya berat, seberat kepastian yang ditulis di atas kertas yang tak akan pernah sampai pada mereka yang tangannya pecah oleh cangkul dan debu jalanan. Seorang lelaki berdiri di depan meja hijau, bibirnya retak, napasnya sesak, kata-katanya tercekat seperti ikan terjerat kail. Ia ingin bicara, ingin menolak, tapi suara di dadanya telah diculik oleh pasal yang ditikamkan tanpa ampun. Di luar, gerimis turun ta...
Kami lahir atas dasar keresahan dan mencoba merawat ide—mengusung visi sebagai jembatan keilmuan serta gerakan dinamis yang tumbuh secara organik agar tetap bersuara.