Sastra—Amir
Hamzah adalah salah satu tokoh terkemuka dalam sejarah sastra Indonesia—yang
dikenal sebagai "Raja Penyair Pujangga Baru". Ia merupakan sastrawan
angkatan Pujangga Baru, sebuah kelompok sastra yang berkembang pada era
1933-1942, yang menekankan pada penggabungan antara tradisi lama dan modernitas
dalam karya sastra.
![]() |
| Foto: detik.com |
Profil
Amir lahir di Tanjung Pura, Langkat,
Sumatra Utara pada 27 Februari 1911 dan Wafat pada 20 Maret 1946, dalam
keluarga bangsawan Melayu. Ayahnya adalah seorang bangsawan, sedangkan ibunya
berasal dari keluarga terpandang di kerajaan Langkat. Meskipun hidup dalam
lingkungan aristokrat, Amir memiliki jiwa merakyat dan rasa cinta yang mendalam
terhadap budaya dan sastra Melayu.
Pendidikan
Setelah tamat dari HIS Tanjungpura pada
tahun 1924, Amir Hamzah melanjutkan studinya di sekolah Christelijk MULO di
Medan. Kemudian, ia pindah ke Batavia untuk melanjutkan kelas 2 dan kelas 3
MULO, dan menamatkan sekolah di MULO pada tahun 1927.
Pada tahun yang sama, Amir Hamzah
berangkat ke Solo dan mendaftar di AMS (Algemene Middelbare School) Solo,
jurusan Sastra Timur. Ia tercatat sebagai siswa yang tidak pernah bolos dan
memiliki kedisiplinan yang sangat baik.
Di sinilah ia berkenalan dengan Ilik
Sundari, wanita yang sangat dicintainya dan menjadi sumber inspirasi dalam
kepenyairannya. Setelah tamat dari AMS Solo, Amir Hamzah kembali ke Jakarta
(Batavia) dan melanjutkan pendidikannya di Sekolah Hakim Tinggi.
Gaya dan Tema Karya
Puisi-puisi Amir Hamzah dikenal penuh
dengan nuansa romantik, spiritual, dan mistis. Ia banyak memanfaatkan kekayaan
bahasa Melayu klasik, menciptakan karya yang puitis dengan kosakata yang indah.
Tema-tema yang sering muncul dalam
karyanya mencakup cinta, kerinduan, keindahan alam, spiritualitas, dan refleksi
mendalam tentang kehidupan.
Amir juga membawa pengaruh tradisi sastra
lama, seperti pantun, gurindam, dan syair, ke dalam bentuk puisi modern.
Gaya bahasanya memadukan keindahan klasik
dengan sensibilitas modern, menjadikannya unik di antara penyair sezamannya.
Karya-Karya Amir Hamzah
Buku-buku yang telah terbit karya Amir
Hamzah antara lain Nyanyi Sunyi (1937), Buah Rindu (1941), Sastra Melayu Lama
dengan Tokoh-Tokohnya (1941), dan Esai dan Prosa (1982).
Adapun terjemahannya meliputi Bhagawad
Gita (dimuat dalam Poedjangga Baroe, 1933–1934), dan Setanggi Timur (terjemahan
puisi-puisi dari Jepang, Arab, India, Persia, dan lain-lain, 1939).
Berbagai karangan Amir Hamzah yang
tersebar dihimpun oleh H.B. Jassin dalam Amir Hamzah Raja Penyair Pujangga Baru
(1963). Beberapa puisi Amir Hamzah juga terdapat dalam antologi Pujangga Baru:
Prosa dan Puisi (1963, edisi H.B. Jassin).
Pengaruh dan Warisan
Amir Hamzah bukan hanya seorang penyair,
tetapi juga seorang tokoh nasionalis yang mendukung kemerdekaan Indonesia.
Setelah kembali ke Sumatra, ia terlibat dalam pemerintahan Kesultanan Langkat.
Sayangnya, setelah Proklamasi Kemerdekaan
Indonesia, ia menjadi korban revolusi sosial di Sumatra Timur pada 1946, yang
mengakhiri hidupnya secara tragis.
Warisan Amir Hamzah terus hidup dalam
sastra Indonesia. Karya-karyanya menjadi inspirasi bagi generasi penyair
berikutnya, baik karena keindahan bahasanya maupun kedalaman filosofinya.
Hingga kini, Amir diakui sebagai salah
satu tokoh sastra terbesar Indonesia, dengan puisi-puisinya yang abadi. (Melin
Maulinta)

Komentar
Posting Komentar