Langsung ke konten utama

Putih: Refleksi Tentang Kehidupan, Kematian, dan Keabadian

MusikinEfek Rumah Kaca (ERK), band asal Jakarta yang terbentuk pada 2001, dikenal karena Grup band yang tak terlalu dominan mengangkat lagu tentang percintaanꟷtak seperti band-band pada umumnya.

Foto: Cultura

Digawangi oleh Cholil Mahmud, Adrian Yunan Faisal, dan Akbar Bagus Sudibyo, ERK menjadikan realitas sosial sebagai landasan eksplorasi dalam bermusiknya. Dengan gaya musik yang mudah didengar namun sarat makna, mereka mampu menyampaikan pesan mendalam yang dapat diterima berbagai kalangan seperti saya generasi Gen Z.

 

ERK sebenarnya bukan grup band yang asing lagi bagi saya. Sejak masih duduk di bangku SMA, saya sudah mengenal dan tak sedikit mendengarkan lagu-lagu mereka yang tidak hanya enak didengar, tetapi juga penuh semangat. Lagu-lagu seperti Di Udara, Sebelah Mata, Di Rahim Ibu, hingga Desember selalu berhasil membangkitkan suasana yang khas.

 

Salah satu karya dari ERK yang akhir-akhir ini membuat saya penuh dengan ingatan dengan hal-hal yang telah lalu dalam hidup saya. Lagu tersebut tak sengaja diputar kawan karib saya sewaktu kita berdua makan disebuah kedai dekat kampus kami kuliah.

 

Lagu ERK tersebut berjudul Putih yang dimuat dalam salah satu albumnya Sinestesia. Putih bagi saya adalah refleksi mendalam tentang kematian, kehidupan, dan makna keberadaan manusia. Dengan lirik yang penuh simbolisme dan narasi yang kuat, lagu ini mengajak pendengar untuk merenungkan perjalanan hidup dan siklus kehidupan yang tak dapat terelakkan.

 

Kematian, yang sering kali dianggap sebagai akhir menakutkanꟷditampilkan sebagai bagian dari perjalanan menuju keberadaan yang abadi. ERK menyampaikan bahwa kematian bukan sekadar akhir, tetapi juga transisi yang membuka ruang bagi kelanjutan hidup dalam bentuk lain. 

 

Lirik seperti

 

“Dan kematian, keniscayaan

Di persimpangan atau kerongkongan

Tiba-tiba datang atau dinantikan

Dan kematian, kesempurnaan”

 

Menggambarkan kematian sebagai sesuatu yang tak terhindarkan, hadir secara tiba-tiba atau perlahan.

 

Namun begitu, lagu ini menawarkan sudut pandang optimis dengan menyebutnya sebagai “awal kekekalan”, menekankan bahwa kehidupan manusia tidak berakhir di dunia fana. Melalui simbol-simbol seperti tangisan bayi dan “disemai menjadi api” lagu ini menggarisbawahi siklus kehidupan yang terus berulang, mencerminkan regenerasi dan keberlanjutan. 

 

Unsur spiritualitas juga menjadi bagian penting pada Putih. Ritual tahlilan dan doa untuk yang telah tiada mencerminkan tradisi dan hubungan spiritual yang mempererat keluarga bahkan bisa saja komunitas ataupun sebuah organisasi. Dalam dimensi ini, kematian tidak hanya menjadi akhir perjalanan pribadi, tetapi juga momen untuk memperkuat ikatan melalui kenangan dan doa.


Siaran pers album ke-3 ERK


Tak hanya itu, Putih menggali pertanyaan besar tentang eksistensi dan makna hidup. Lirik seperti

 

“Tentang akal dan hati

Rahasianya yang penuh teka-teki

Tentang nalar dan iman

S'gala pertanyaan tak kunjung terpecahkan”

 

Menyoroti misteri kehidupan yang sulit dijawab. Lagu ini menurut saya adalah sebuah ajakan bagi pendengar untuk merenungkan hubungan antara akal dan hati, iman dan logika, serta kebenaran dan kejujuranꟷteka-teki yang menjadi inti perjalanan manusia. 

 

Meski penuh refleksi mendalam, Putih tetap menyisipkan optimisme. Frasa seperti “Esok kan bermekaran” menjadi simbol harapan bahwa kehidupan akan terus berlanjut meski seseorang telah tiada. Warisan gagasan, karya, atau cinta dari mereka yang telah pergi akan terus hidup dalam generasi berikutnya, membentuk kehidupan baru yang penuh makna. 

 

Secara keseluruhan, Putih adalah meditasi filosofis yang puitis tentang kematian dan kehidupan. Lagu ini mengajarkan pentingnya menerima kematian sebagai bagian dari siklus alam, seraya mempertahankan harapan bahwa kehidupan akan terus bermekaran.

 

Dalam setiap akhir, selalu ada awal baruꟷdan dalam setiap kehilangan, selalu ada ruang untuk harapan. Dengan lagu Putih, Efek Rumah Kaca menunjukkan bahwa menghadapi misteri kehidupan dengan iman dan kejujuran memungkinkan manusia menemukan makna yang lebih besar dalam kefanaan-nya. (Suta Mayong)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sukses Terbitkan 40 Buku Berbahasa Inggris, Penulis Cilik Ini Terbitkan Buku di Usia 11 Tahun!

Selintas— DeLiang Al-Farabi atau lebih akrab disapa Deliang menjadi sorotan setelah videonya dikabarkan viral di Amerika Serikat. Anak yang berasal dari Trenggalek, Jawa Timur ini berhasil merilis puluhan buku Berbahasa Inggris hingga mendobrak tingkatan best seller di Amerika Serikat. Foto: Jawa Pos DeLiang memiliki nama Lengkap Muhammad DeLiang Al-farabi. Ia lahir di Tapei, Taiwan, 18 Juni 2012. DeLiang merupakan putra dari pasangan Ario Muhammad dan Ratih Nur Esti Anggraini. Ia lahir saat ibunya sedang menempuh pendidikan Magister di Taiwan. Dilansir dari eddo.id, DeLiang memiliki 2 saudara, yakni seorang laki-laki dan saudari perempuan. Ia dibesarkan oleh orang tua yang juga memiliki pendidikan yang cukup tinggi yaitu dengan menyandang gelar MSc dan PhD bersama-sama. Kini, adik perempuan DeLiang juga mulai menekuni untuk menjadi seorang penulis cilik, Senin (3/3/2025). “Nama saya deliang. Nama lengkap saya Muhammad DeLiang Al-Farabi. Saat ini saya punya satu saudara laki-laki dan s...

Kisah di Balik Syair Unik Tob Tobi Tob (Sawt Safitri Al-Bubuli)

Selintas— Belakangan ini viral di media sosial fenomena syair dengan latar belakang bahasa Arab yang merupakan karya dari Sawt Safitri Al-BulBuli atau yang lebih dikenal dengan Tob tobi tob. Syair ini cukup menggemparkan jagat maya karena lantunan syairnya yang terbilang cepat dan cukup unik. Tak sedikit dari konten kreator yang mencoba untuk melantunkannya sebab menjadikan hal tersebut sebagai sebuah tantangan. Namun, dibalik keunikan dari syair Sawt Al-Safitri Al-Bulbuli atau Tob tobi tob ini terdapat sebuah kisah menarik yang menyertainya. Dilansir dari arina.id kisah menarik dibalik syair itu antara Al-Ashma’I dengan khalifah Ab Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas atau yang terkenal dengan nama Abu Ja’far Al-Manshur, khalifah ke-2 imperium Abbasid dan ke-21 dari urutan Rasulullah yang berkuasa selama 22 tahun. Syair ini sudah diciptakan sekitar 1300 tahun yang lalu. Kisah itu tertulis dalam kitab Nawadirul Khulafa atau nama lain I’lamun Naas Bi Ma Waqa’a Lil Barami...

Aksi Massa

Titikintipbuku— Nama Tan Malaka seolah terlupakan dari sejarah perjuangan Indonesia. Selama ini namanya diasosiasikan orang dengan pemberontakan dan gerakan radikal komunis tanpa pernah tahu latar belakang, pemikiran, serta upaya-upayanya menghalau imperalisme Barat di Indonesia. Dalam buku ini, Tan Malaka menunjukkan pemikirannya bahwa upaya perebutan kekuasaan dengan radikal (putch) bukanlah solusi terbaik, baginya, “putch itu adalah satu aksi segerombolan rakyat banyak. Gerombolan itu biasanya hanya membuat rancangan menurut kemauan dan kecakapan sendiri tanpa memperdulikan perasaan dan kesanggupan massa… ‘tukang-tukang putch’ lupa bahwa… revolusi timbul dengan sendirinya dengan hasil dari berbagai macam keadaan. Bila tukang-tukang putch’ pada waktu yang telah ditentukan oleh mereka sendiri, keluar tiba-tiba, massa tidak akan memberikan pertolongan kepada mereka. Bukan karena massa bodoh atau tidak memperhatikan, melainkan massa hanya berjuang untuk kebutuhan yang terdekat dan sesua...