Langsung ke konten utama

TIRTO ADHI SOERJO: Sang Pionir Pers Indonesia dan Pejuang Kemerdekaan Melalui Tulisan

SosokTirto Adhi Soerjo adalah salah satu tokoh yang patut dikenang dalam sejarah Indonesia. Ia dikenal sebagai sosok pelopor pers nasional dan pergerakan kebangsaan yang penuh semangat perjuangan.

Ilutrasi: Sindonews

Di tengah keterbatasan masa kolonial, Tirto tidak hanya menjadi wartawan dan pendiri surat kabar pertama yang dimiliki oleh orang pribumi, tetapi juga membangun pondasi penting bagi kesadaran politik dan sosial di kalangan rakyat Indonesia.

 

Mengenal Sosok Tirto Adhi Soerjo

 

Tirto Adhi Soerjo lahir pada tahun 1880, di Cepu, Blora, Jawa Tengah dengan nama Raden Mas Djokomono. Beliau anak kesembilan dari sebelas bersaudara, sekaligus merupakan keturunan darah bangsawan.

 

Dari garis sang ayah, ia merupakan cucu dari R.M.T. Tirtonoto seorang Bupati Bojonegoro, Ayahnya bernama Raden Ngabehi Hadji Moehammad Chan Tirtodhipoero merupakan seorang pegawai Kantor Pajak (collecteur, Belanda) pada masa kolonialisme.

 

Sedangkan dari garis ibu, Tirto merupakan keturunan Mangkunegara I dan berada di derajat ke-4 dari Keraton Surakarta, sekaligus keturunan ke-4 dari R.M.AA. Tjokronegoro, Bupati Blora. Saat setelah kedua orang tuanya meninggal dunia, Tirto tinggal bersama neneknya yang bernama Raden Ayu Tirtonoto di Bojonegoro, dengan nama kecil kala itu ialah Djokomono.

 

Dari neneknya yang notabene tak suka dengan perlakuan Pemerintah Kolonial pada saat itu, kemungkinan watak Tirto yang berani terhadap pemerintahan pun mulai terbentuk. Lalu setelah neneknya meninggal, ia ikut dengan saudara sepupunya R.M.A. Brotodiningrat, seorang Bupati Madiun.

 

Tak lama ia tinggal dengan sepupunya di Madiun, ia pun kemudian pindah ke Rembang mengikuti kakaknya R.M. Tirto Adi Koesoemo yang merupakan seorang Jaksa-Kepala Rembang.

 

Pendidikan Tirto Adhi Soerjo

 

Tirto menempuh pendidian sekolah dasar Eropa di Europeesch Lagere School (ELS) dan melanjutkan ke Sekolah Dokter jawa STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen).

 

Berbeda dari keturunan bangsawan lainnya, ia lebih memilih jalur medis dibanding pemerintahan. Sayangnya, Tirto tidak menyelesaikan pendidikannya di STOVIA. Pada tahun 1900, Setelah enam tahun mengenyam bangku pendidikan - ia dikeluarkan karena beberapa kasus.

 

Namun kasus yang paling parah adalah ia ketahuan membuat resep obat untuk mengobati sahabatnya seorang Tionghoa miskin. Padahal ia belum memiliki ijin untuk mengeluarkan resep.

 

Rekam Jejak Karir Tirto

 

Tirto mulai berkecimpung di dunia tulis-menulis surat kabar sejak menjadi penulis lepas di surat kabar Chabar Hindia Olanda, koran yang terbit sekira tahun 1888-1897 – yang mana pada saat itu ia masih duduk dikelas persiapan STOVIA.

 

Setelah surat kabar itu tak lagi terbit, Tirto beralih ke surat kabar Pembrita Betawi (PB). Tak hanya itu saja, Tirto juga pernah menjadi pembantu tetap disurat kabar Pewarta Priangan di Bandung.

 

Bagi Tirto Adhi Soerjo, peran pers seharusnya berfokus pada pengembangan dan pemahaman akan hak-hak serta martabat rakyat. Oleh karena itu, ia sangat aktif dalam mengelola berbagai media massa, baik sebagai penulis maupun pemimpin redaksi, termasuk Pembrita Betawi, Soenda Berita, Medan Priyayi, Soeloeh Keadilan, Poetri Hindia, Sarotomo, Soeara B.O.W, Soeara Spoor dan Tram, serta Soeraaurna.

 

Ia melihat tugasnya sebagai wartawan dapat menjadi sarana untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat dalam menghadapi berbagai persoalan yang muncul.

Atas saran dari Karel Wijbrands, Pada tahun 1903, Tirto mulai menerbitkan surat kabarnya sendiri - Lahirlah Soenda Berita (SB) yang menjadi tonggak sejarah Pers Indonesia.

 

Soenda Berita menjadi surat kabar awalan Tirto dalam proses belajar mengelola media. SB berjalan terbit selama tiga tahun kemudian kandas karena kerugian di tahun 1906. Namun, dengan bangkrutnya SB tak lantas membuat Tirto menyerah.

 

Pada tahun-tahun berikutnya di karir jurnalistik Tirto, ia masih kerap memunculkan media atau surat kabar baru. Ada Medan Prijaji (1907), Soeloeh Keadilan (1907), dan Poetri Hindia (1908).

 

Medan Prijaji merupakan surat kabar pertama yang bersuara nasional. Medan Prijaji dikenal sebagai surat kabar nasional pertama karena menggunakan bahasa Melayu (bahasa Indonesia) dan diterbitkan secara mingguan.

 

Selain itu, seluruh pekerja mulai dari pengasuhnya, percetakan, penerbitan dan wartawannya adalah pribumi. Dalam surat kabar ini sering muncul kritik-kritik yang ditulis sendiri oleh R.M. Tirto Adhi Soerjo dalam bentuk cerita pendek.

 

Tirto adalah orang pertama yang menggunakan surat kabar sebagai alat propaganda dan pembentuk pendapat umum. Tirto berani menulis kecaman-kecaman pedas terhadap pemerintahan kolonial Belanda pada masa itu.

 

Di bawah kepala surat kabar Medan Prijaji tertulis "orgaan boeat bangsa jang terperintah di Hinia Olanda, tempat memboeka soearanja". Moto yang disampaikan oleh Tirtohadisoerjo pada masa itu sudah dianggap radikal.

 

Keberanian Tirto mengkritik penjajahan membuatnya diserang balik oleh pemerintah kolonial Belanda. Selain itu, omset Medan Prijaji terus menurun hingga tak mampu membayar biaya percetakan, menyebabkan koran ini berhenti terbit pada 20 Agustus 1912.

 

Pada Desember 1912, Tirto terlibat kasus hukum karena tulisannya yang kontroversial, hingga ia dilaporkan oleh pejabat kolonial dan diasingkan ke Maluku. Seluruh kekayaannya juga dilikuidasi oleh pemerintah Belanda, dengan keputusan hakim yang ditandatangani pada 17 Desember 1912.

 

Pada 1906, Tirto Adhi Soerjo mendirikan Sarekat Prijaji, sebuah organisasi yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan kaum pribumi. Kemudian Pada 1908, Tirto menyadari bahwa Sarekat Prijaji tidak memiliki popularitas yang memadai sebagai sebuah organisasi berorientasi pendidikan.

 

Oleh maka dari itu, setelah Budi Utomo didirikan pada tahun yang sama, Tirto Adhi Soerjo memutuskan untuk bergabung dengan organisasi tersebut. Dengan demikian, Sarekat Prijaji pun berakhir.

 

Pada rapat besar Budi Utomo pada 17 Januari 1909, Tirto menyarankan agar organisasi ini merangkul pedagang pribumi sebagai anggota dan lebih fokus pada pendidikan anak negeri. Meskipun demikian, perselisihan dengan Budi Utomo pada 1909 menyebabkan Tirto keluar dari organisasi tersebut.

 

Tirto Adhi Soerjo menilai Budi Utomo hanya akan mengangkat kaum priyayi Jawa. Menurut Tirto, untuk memajukan kelompok yang kurang berdaya, sebaiknya tidak bergantung pada golongan elit atau pejabat pemerintah, tetapi lebih baik berkolaborasi dengan individu yang bebas, khususnya para pedagang.

 

Tak berselang lama, Pada tahun 1911, Tirto mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI) di Bogor dan Batavia yang mewadahi para pedagang batik, pegawai rendah Kasunanan, hingga orang-orang petugas keamanan. Tujuannya adalah untuk memajukan perdagangan bumiputera. Kemudian Pada 1912, Tirto Adhi Soerjo datang ke Surakarta dan di sini ia bertemu dengan Haji Samanhudi, seorang pengusaha batik di kampung Laweyan.

 

Tirto Adhi Soerjo hadir dalam rapat besar SDI Surakarta dan menyerahkan kepemimpinan SDI kepada Samanhoedi.  Samanhoedi kemudian bertemu dengan Oemar Said Tjokroaminoto dan Tjokrosoedarmo yang saat itu menjadi pengurus SDI Surabaya.  SDI Solo kemudian membuat anggaran dasar baru dan mengganti nama menjadi Sarekat Islam atas inisiatif Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto.

 

Samanhoedi mengumumkan bahwa Sarekat Islam tidak memiliki hubungan dengan SDI yang didirikan oleh Tirto di Bogor dan Batavia. Tirto tidak dapat berbuat banyak karena ia masih berada di Maluku dan harus menjalani hukuman pembuangannya selama 6 bulan.

 

Akhir Kisah Hidup Bapak Pers Indonesia

 

Tirto ditangkap dan disingkirkan dari Pulau Jawa dan dibuang ke Pulau Bacan, dekat Halmahera (Provinsi Maluku Utara) karena terlibat dalam kasus hukum terkait tulisan-tulisannya yang kontroversial.

 

Dikutip dari beberapa sumber, Bahwasanya setelah Tirto kembali dari pengasingan, situasi di Jawa berubah dengan munculnya banyak organisasi kebangsaan. Tirto mulai terlupakan dan tidak lagi menjadi tokoh utama di dunia pers. Gerak-geriknya diawasi ketat oleh pemerintah kolonial, yang berdampak pada kesehatan fisik dan mentalnya.

 

Pada 7 Desember 1918, ia meninggal di usia 38 tahun. Berselang 55 tahun kemudian, pemerintah Indonesia mengakui jasanya dan menobatkannya sebagai Bapak Pers Nasional. Tirto Adhi Soerjo akhirnya diberi gelar pahlawan nasional dan Tanda Kehormatan Bintang Maha Putra Adipradana pada 10 November 2006.

 

Penganugerahan gelar pahlawan nasional bagi Tirto Adhi Soerjo diumumkan melalui Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 085/TK/Tahun 2006 pada 3 November 2006. (Sjahrir)

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sukses Terbitkan 40 Buku Berbahasa Inggris, Penulis Cilik Ini Terbitkan Buku di Usia 11 Tahun!

Selintas— DeLiang Al-Farabi atau lebih akrab disapa Deliang menjadi sorotan setelah videonya dikabarkan viral di Amerika Serikat. Anak yang berasal dari Trenggalek, Jawa Timur ini berhasil merilis puluhan buku Berbahasa Inggris hingga mendobrak tingkatan best seller di Amerika Serikat. Foto: Jawa Pos DeLiang memiliki nama Lengkap Muhammad DeLiang Al-farabi. Ia lahir di Tapei, Taiwan, 18 Juni 2012. DeLiang merupakan putra dari pasangan Ario Muhammad dan Ratih Nur Esti Anggraini. Ia lahir saat ibunya sedang menempuh pendidikan Magister di Taiwan. Dilansir dari eddo.id, DeLiang memiliki 2 saudara, yakni seorang laki-laki dan saudari perempuan. Ia dibesarkan oleh orang tua yang juga memiliki pendidikan yang cukup tinggi yaitu dengan menyandang gelar MSc dan PhD bersama-sama. Kini, adik perempuan DeLiang juga mulai menekuni untuk menjadi seorang penulis cilik, Senin (3/3/2025). “Nama saya deliang. Nama lengkap saya Muhammad DeLiang Al-Farabi. Saat ini saya punya satu saudara laki-laki dan s...

Kisah di Balik Syair Unik Tob Tobi Tob (Sawt Safitri Al-Bubuli)

Selintas— Belakangan ini viral di media sosial fenomena syair dengan latar belakang bahasa Arab yang merupakan karya dari Sawt Safitri Al-BulBuli atau yang lebih dikenal dengan Tob tobi tob. Syair ini cukup menggemparkan jagat maya karena lantunan syairnya yang terbilang cepat dan cukup unik. Tak sedikit dari konten kreator yang mencoba untuk melantunkannya sebab menjadikan hal tersebut sebagai sebuah tantangan. Namun, dibalik keunikan dari syair Sawt Al-Safitri Al-Bulbuli atau Tob tobi tob ini terdapat sebuah kisah menarik yang menyertainya. Dilansir dari arina.id kisah menarik dibalik syair itu antara Al-Ashma’I dengan khalifah Ab Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas atau yang terkenal dengan nama Abu Ja’far Al-Manshur, khalifah ke-2 imperium Abbasid dan ke-21 dari urutan Rasulullah yang berkuasa selama 22 tahun. Syair ini sudah diciptakan sekitar 1300 tahun yang lalu. Kisah itu tertulis dalam kitab Nawadirul Khulafa atau nama lain I’lamun Naas Bi Ma Waqa’a Lil Barami...

Aksi Massa

Titikintipbuku— Nama Tan Malaka seolah terlupakan dari sejarah perjuangan Indonesia. Selama ini namanya diasosiasikan orang dengan pemberontakan dan gerakan radikal komunis tanpa pernah tahu latar belakang, pemikiran, serta upaya-upayanya menghalau imperalisme Barat di Indonesia. Dalam buku ini, Tan Malaka menunjukkan pemikirannya bahwa upaya perebutan kekuasaan dengan radikal (putch) bukanlah solusi terbaik, baginya, “putch itu adalah satu aksi segerombolan rakyat banyak. Gerombolan itu biasanya hanya membuat rancangan menurut kemauan dan kecakapan sendiri tanpa memperdulikan perasaan dan kesanggupan massa… ‘tukang-tukang putch’ lupa bahwa… revolusi timbul dengan sendirinya dengan hasil dari berbagai macam keadaan. Bila tukang-tukang putch’ pada waktu yang telah ditentukan oleh mereka sendiri, keluar tiba-tiba, massa tidak akan memberikan pertolongan kepada mereka. Bukan karena massa bodoh atau tidak memperhatikan, melainkan massa hanya berjuang untuk kebutuhan yang terdekat dan sesua...