Langsung ke konten utama

PEMILU: Event Merias Pohon dan Jalan


Esai—Sejak dimulainya kampanye pemilu pada tanggal 28 November 2023 hingga 10 Februari 2024, Penyebaran poster kampanye di pohon-pohon adalah tindakan yang seharusnya kita pikirkan bersama.

Ilustrasi: Kompas.id

Sebagian orang mungkin merasa ini adalah cara yang lumrah dan sesuatu hal yang cukup akrab bagi pepohonan dalam menggalang dukungan politik, tetapi apakah ini cukup etis bagi alam?.

 

Pohon merupakan sub yang penting dari alam terkhusus bagi kita. Mengapa penting? sederhana-nya saja, La wong Mereka memberikan oksigen kok bagi kita. Apalagi mendukung keberagaman hayati, dan membentuk lingkungan yang sehat.

 

Menempelkan poster kampanye di pohon-pohon seolah-olah kita tidak mempedulikan hak-hak alam dan lingkungan. Kita perlu bertanya pada diri sendiri, apakah kepentingan politik seharusnya melewati pertimbangan terhadap alam?.

 

Penempelan poster caleg-caleg DPRD dan DPR RI atau kawan sejawat-nya pada pohon-pohon seringkali tidak sesuai dengan aturan dan peraturan pemilihan umum yang telah ditetapkan.

 

Sudah jelas bahwa pohon merupakan salah satu lokasi yang dilarang untuk penempatan alat peraga kampanye ini. Hal itu tertuang pada Pasal 70 dan 71 PKPU No 15 Tahun 2023 tentang Kampanye Pemilihan Umum. Peraturan ini merupakan instruksi terbaru dari KPU RI yang mengatur kampanye para peserta pemilu.

 

Berdasarkan peraturan itu, bahan kampanye tidak diizinkan dipasang di gedung atau fasilitas pemerintah, jalan protokol, jalan bebas hambatan, sarana publik, taman, dan pepohonan. Larangan ini juga mencakup tempat ibadah, rumah sakit, atau tempat layanan kesehatan, serta gedung atau halaman sekolah/perguruan tinggi.

 

Dari segi lingkungan saja, tindakan ini bisa dianggap sebagai bentuk pencemaran visual. Pohon-pohon yang seharusnya memberikan keindahan malah terlihat penuh dengan poster, menciptakan tampilan yang kurang rapi dan kurang nyaman untuk dilihat.

 

Di pohon banyak poster caleg, jembatan banyak bendera, tepian jalan juga berkibar dengan riang bendera-bendera partai. bahkan lampu jalan saja, sempat-sempat nya dibuat pajangan meminta dukungan. Bagaimana ini wasit?.

 

Apakah penempelan poster bergambar orang yang sok menggendong cangkul dan padi, serta bendera-bendera di pohon-pohon dan di jembatan itu benar-benar membantu membangun partisipasi masyarakat untuk memilih? atau malah sebaliknya.

 

Sepertinya Masyarakat perlu memilah dengan lebih baik, dan tindakan seperti ini mungkin tidak memberikan informasi yang cukup bagi masyarakat yang tiap hari kerjaannya ladang saja.

 

Seharusnya para calon-calon ini lebih kreatif dalam pendekatan kampanye mereka. Penggunaan media sosial yang kian berkembang di zaman sekarang mungkin lebih efektif tanpa merugikan lingkungan. kita perlu berpikir jernih dan sadar tentang cara kita berkomunikasi dan terlibat dengan masyarakat tanpa merusak alam.

 

Lah, kan gak semuanya bisa menggunakan media digital khususnya media sosial? Gimana doang buat Mbah Mbah atau orang-orang tua kita yang gaptek dengan teknologi informasi seperti ini?

 

Yaaa... Urusan celeg-calegnya dong, kan mereka yang mau nyaleg. harusnya bisa buat strategi lain dong kecuali tempal-tempel poster di pohon. Malah seharusnya, yang masih pasang poster atau bendera di pohon tidak usah dipilih gak si?. (Aku adalah Meteor)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sukses Terbitkan 40 Buku Berbahasa Inggris, Penulis Cilik Ini Terbitkan Buku di Usia 11 Tahun!

Selintas— DeLiang Al-Farabi atau lebih akrab disapa Deliang menjadi sorotan setelah videonya dikabarkan viral di Amerika Serikat. Anak yang berasal dari Trenggalek, Jawa Timur ini berhasil merilis puluhan buku Berbahasa Inggris hingga mendobrak tingkatan best seller di Amerika Serikat. Foto: Jawa Pos DeLiang memiliki nama Lengkap Muhammad DeLiang Al-farabi. Ia lahir di Tapei, Taiwan, 18 Juni 2012. DeLiang merupakan putra dari pasangan Ario Muhammad dan Ratih Nur Esti Anggraini. Ia lahir saat ibunya sedang menempuh pendidikan Magister di Taiwan. Dilansir dari eddo.id, DeLiang memiliki 2 saudara, yakni seorang laki-laki dan saudari perempuan. Ia dibesarkan oleh orang tua yang juga memiliki pendidikan yang cukup tinggi yaitu dengan menyandang gelar MSc dan PhD bersama-sama. Kini, adik perempuan DeLiang juga mulai menekuni untuk menjadi seorang penulis cilik, Senin (3/3/2025). “Nama saya deliang. Nama lengkap saya Muhammad DeLiang Al-Farabi. Saat ini saya punya satu saudara laki-laki dan s...

Kisah di Balik Syair Unik Tob Tobi Tob (Sawt Safitri Al-Bubuli)

Selintas— Belakangan ini viral di media sosial fenomena syair dengan latar belakang bahasa Arab yang merupakan karya dari Sawt Safitri Al-BulBuli atau yang lebih dikenal dengan Tob tobi tob. Syair ini cukup menggemparkan jagat maya karena lantunan syairnya yang terbilang cepat dan cukup unik. Tak sedikit dari konten kreator yang mencoba untuk melantunkannya sebab menjadikan hal tersebut sebagai sebuah tantangan. Namun, dibalik keunikan dari syair Sawt Al-Safitri Al-Bulbuli atau Tob tobi tob ini terdapat sebuah kisah menarik yang menyertainya. Dilansir dari arina.id kisah menarik dibalik syair itu antara Al-Ashma’I dengan khalifah Ab Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas atau yang terkenal dengan nama Abu Ja’far Al-Manshur, khalifah ke-2 imperium Abbasid dan ke-21 dari urutan Rasulullah yang berkuasa selama 22 tahun. Syair ini sudah diciptakan sekitar 1300 tahun yang lalu. Kisah itu tertulis dalam kitab Nawadirul Khulafa atau nama lain I’lamun Naas Bi Ma Waqa’a Lil Barami...

Aksi Massa

Titikintipbuku— Nama Tan Malaka seolah terlupakan dari sejarah perjuangan Indonesia. Selama ini namanya diasosiasikan orang dengan pemberontakan dan gerakan radikal komunis tanpa pernah tahu latar belakang, pemikiran, serta upaya-upayanya menghalau imperalisme Barat di Indonesia. Dalam buku ini, Tan Malaka menunjukkan pemikirannya bahwa upaya perebutan kekuasaan dengan radikal (putch) bukanlah solusi terbaik, baginya, “putch itu adalah satu aksi segerombolan rakyat banyak. Gerombolan itu biasanya hanya membuat rancangan menurut kemauan dan kecakapan sendiri tanpa memperdulikan perasaan dan kesanggupan massa… ‘tukang-tukang putch’ lupa bahwa… revolusi timbul dengan sendirinya dengan hasil dari berbagai macam keadaan. Bila tukang-tukang putch’ pada waktu yang telah ditentukan oleh mereka sendiri, keluar tiba-tiba, massa tidak akan memberikan pertolongan kepada mereka. Bukan karena massa bodoh atau tidak memperhatikan, melainkan massa hanya berjuang untuk kebutuhan yang terdekat dan sesua...